UNIFIL Tetap Siaga
Juru bicara Sekjen PBB juga mengatakan bahwa tim pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) masih ada di posisi mereka dan “secara teratur menyesuaikan postur dan kegiatan mereka untuk memenuhi mandat mereka. Kami tentu saja tetap berterima kasih kepada personel sipil dan militer misi itu, yang terus melayani dalam kondisi seperti itu, dan juga kepada negara-negara penyumbang pasukan (TCC) kami atas komitmen dan dukungan mereka yang berkelanjutan kepada UNIFIL.”
Untuk mengantisipasi serangan roket lebih jauh dari Hizbullah – dan kini serangan rudal dari Iran – militer Israel mengumumkan serangkaian pembatasan baru terkait pertemuan di tempat umum, yaitu hanya untuk maksimal 30 orang.
Israel juga menutup seluruh pantai di seluruh kawasan utara dan tengah negara itu. Seluruh sekolah di bagian utara Israel juga ditutup, dan hanya diperkenankan beroperasi jika memiliki tempat perlindungan bom yang memadai.
Kebijakan baru ini diberlakukan sehari sebelum Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashanah, di mana biasanya warga dalam jumlah besar berkumpul untuk berdoa di Tembok Ratapan di kota suci Yerusalem.
Dukung Hamas, Hizbullah Luncurkan Roket ke Israel
Kelompok perlawanan Hizbullah di Lebanon mulai meluncurkan roket ke utara Israel tak lama setelah Israel melancarkan serangan balasan terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober lalu.
Serangan Hamas sebagai perlawanan atas pendudukan oleh negara zionis itu disebut menewaskan 1.200 warga Israel, sementara 250an lainnya disandera. Sebagian sandera ini telah dibebaskan sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata bulan November lalu.
Membalas serangan roket Hizbullah itu, dalam beberapa minggu terakhir ini Israel telah melancarkan serangan udara ke sejumlah besar wilayah Lebanon, termasuk ke selatan dan ibu kota Beirut. [voa]
Jaringan: VOA





