“Mereka mengaku kesulitan dana untuk biaya anak untuk kuliah di berbagai universitas di Riau maupun daerah lain, termasuk luar negeri.”
Meranti (jurnal) – Anjloknya harga jual komoditi pertanian karet tidak hanya berimbas pada turunnya daya beli masyarakat, tetapi berakibat paling fatal adalah turunnya animo orang tua di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau untuk menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi.
Hal ini disampaikan Rudi, juru bicara Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Kepulauan Meranti di Pekanbaru ketika menghadiri “open house” di kediaman Wakil Bupati Kepulauan Meranti H Masrul Kasmy beberapa hari lalu, dan sempat menjadi perbincangan hangat antara mahasiswa dengan orang nomor dua di kabupaten tersebut.
“Sebagaimana informasi yang saya dapat langsung dari tetangga-tetangga di kampung, bahwasanya turunnya harga komoditi pertanian, khususnya harga getah (ojol) bukan saja berdampak pada turunnya daya beli masyarakat,” ungkap Rudi yang diiaminkan seluruh mahasiswa dan pelajar yang hadir.
Menurut Rudi, para orang tua di kampung-kampung mengaku banyak yang berniat mengurungkan niatnya untuk menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi karena pendapatan mereka sebagai petani karet merosot.
“Mereka mengaku kesulitan dana untuk biaya anak untuk kuliah di berbagai universitas di Riau maupun daerah lain, termasuk luar negeri,” katanya.
Ia menyebutkan dengan merosotnya harga jual ojol atau karet mengakibatkan kehidupan mereka makin sengsara karena uang hasil menoreh getah hanya cukup untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari.
“Bahkan ada warga yang beralih profesi dan menghentikan aktifitasnya yang selama ini digeluti. Jadi uang hasil menoreh getah tidak sempat ditabung guna untuk menguliahkan anak-anaknya,” kata dia.
Sebagai generasi penerus di kabupaten paling bungsu di Riau ini, mahasiswa dan pelajar prihatin jika persoalan ini terus dibiarkan tanpa sikap nyata dari pemda.
“Dan kami berharap Pemda turun tangan menyikapi permasalahan ini, setidaknya mencari solusi sehingga agar tidak berlarut-larut.” ungkasnya.
Menyikapi anjloknya harga getah itu, Wakil Bupati Kepulauan Meranti H Masrul Kasmy kepada perwakilan mahasiwa mengatakan, dirinya sejak awal telah mewanti-wanti agar hal ini tidak menjadi persoalan rutin yang dihadapi masyarakat yang mencapai 65 persen dari total penduduk Meranti mengandalkan komoditi pertanian, seperti karet, sagu, kopi dan aneka komoditas pertanian lainnya.
“Sejak awal sudah saya sampaikan di beberapa kesempatan, saya sangat khawatir dengan sering anjloknya harga getah dan komoditi pertanian lainnya. Harga getah dunia naik, kok di Meranti malah turun, inikan ada pihak-pihak yang bermain dalam menentukan harga,” katanya.
Dulu, kata Wakil Bupati, harga getah berkisar Rp15.000-Rp20.000 per kilogram, tapi seiring banyaknya produksi bahan baku getah guna kebutuhan aneka produk di pasaran dunia, tidak tahunya harga getah pada momen tertentu di daerah kita ini malah turun. “Ini pasti ada yang salah,” tuturnya.
Menurut Masrul kasmy, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan Pemkab dalam mengatasi persoalan tersebut, misalkan saja mendirikan pabrik karet, namun untuk mendatangkan investor tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena seluruh sarana prasarana pendukung harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti pembangunan sarana air bersih yang cukup, listrik yang memadai, dan infrastruktur jalan maupun fasilitas penunjang lainya.
“Itu perlu waktu dan biaya yang besar, solusi lainnya tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah bekerja sama dengan pengusaha dalam membeli dan menjual ojol tersebut ke pabrik, sehingga harganya dapat terkontrol sesuai harga pasar. Dan keterlibatan pemerintah di sini tidak mematikan usaha, namun posisinya sebatas pendamping guna menstabilkan harga agar tidak menimbulkan kerugian di kalangan petani,” pungkasnya.
Sebab, kata dia lagi, jika persoalan anjloknya harga berbagai komoditi pertanian di daerah ini tidak ditangani secara serius, ia khawatir akan berdampak sangat luas, salah satunya adalah terhambatnya upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna percepatan pembangunan di wilayah ini. “Dan persoalan ini memang tidak bisa dibiarkan begitu saja,” ucapnya. (Isk)





