Ia mencontohkan dalam konteks Lebanon dan Israel belum sampai terjadi perang terbuka karena belum ada pihak yang benar-benar melancarkan operasi darat. Menurut Agung, tidak seperti yang terjadi di Gaza, ketika Hamas melakukan operasi darat kemudian dibalas oleh Israel yang juga melakukan operasi darat.
“Tetapi ketika bentuk retaliasi yang terbatas biasanya dalam bentuk serangan rudal. Makanya kemudian saya melihat retaliasi sangat mungkin terjadi dilakukan oleh Hamas terhadap Israel. Tetapi kalau sampai kepada perang terbuka, yang sifatnya skala lebih besar, tentu syarat dan ketentuannya masih perlu diperhatikan,” tambahnya.
Lantas pasca peristiwa ini, upaya apa lagi yang kemudian bisa dilakukan oleh Indonesia? Agung menjawab, bahwa saat ini Israel seolah tidak bisa tersentuh oleh hukum internasional. Meski begitu, Agung menilai bahwa diplomasi terhadap negara besar tetap harus didorong.
Kemudian, yang menurutnya tidak kalah penting, adalah mendorong solidaritas daripada 149 negara yang saat ini telah mengakui keberadaan negara Palestina, yang mana mayoritasnya merupakan negara-negara global south. Global south adalah istilah yang merujuk pada negara-negara berkembang dan negara-negara kurang berkembang di dunia.
“Bagaimana pun juga 149 negara yang sudah mengakui Palestina. It means nothing kalau kemudian tidak terkonversi dalam bentuk power. Kalau sekedar statement itu tetap dibutuhkan dalam konteks diplomasi, tetapi kita perlu action yang lebih dari sekedar statement entah mungkin dalam bentuk tekanan diplomatik, tekanan secara ekonomi terhadap Israel dalam hal ini. Makanya 149 negara itu yang mayoritas adalah negara-negara global south, itu kemudian rasa-rasanya penting untuk dibangun semangat, solidaritas, untuk kemudian kita punya action bersama yang jauh lebih kuat dibandingkan sekedar statement,” jelasnya.
“Karena kalau kita lihat dalam konteks norma internasional Israel tidak tersentuh, maksudnya pelanggaran hukum internasional apalagi yang belum dilakukan oleh Israel? Dan itu sudah secara gamblang bisa kita lihat semua. Sekarang bagaimana kemudian tekanan diplomasi, tekanan ekonomi kemudian harus dilakukan terhadap Israel,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA





