Sementara itu akademisi dan pengamat ekonomi dari Binus University, Moch. Doddy Ariefianto, mengatakan Indonesia tak bisa lepas dari defisit neraca berjalan bahkan sejak 2010.
Seperti diketahui, defisit neraca berjalan membuat sektor keuangan berjalan lambat sehingga pertumbuhan ekonomi sulit untuk berkembang.
“Indonesia itu mengekspor lebih kecil daripada impor (barang dan jasa) sehingga mengalami defisit neraca berjalan. Besarnya antara 2-3 persen produk domestik bruto (PDB), bisa mencapai USD20-30 miliar,” kata Doddy.
Doddy menjelaskan defisit neraca berjalan membutuhkan pendanaan. Selama ini Indonesia mendapatkan pendanaannya dari FDI (foreign direct investment/investasi asing langsung) dan FPI (foreign portfolio investment/investasi portfolio asing).
“Indonesia belum jadi destinasi investasi yang real secara solid. Untungnya, FPI itu dari segi persentase defisit neraca berjalan sudah mencapai 60-70 persen, yang penting kita bisa menjaga paritas,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA






