Diklat Keselamatan Transportasi Laut, Pesan Instruktur: Jangan Buang Sampah di Laut

Para peserta Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Keselamatan Transportasi Laut praktek lapangan cara evakuasi di laut di hari kedua diklat, Rabu (10/7/2024). (jurnalterkini.id.yogi)
Para peserta Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Keselamatan Transportasi Laut praktek lapangan cara evakuasi di laut di hari kedua diklat, Rabu (10/7/2024). (jurnalterkini.id.yogi)

Karimun, JurnalTerkini.id – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjung Balai Karimun menggelar Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) untuk masyarakat dan operator kapal tradisional yang ada di kabupaten Karimun.

Sebanyak 144 orang mengikuti diklat Basic Safety Training Kapal Layar Motor (BST-KLM) dan SKK 60 mil khusus bagi operator kapal tradisional bersama Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Banten.

Bacaan Lainnya

Pada hari kedua diklat, Rabu (10/7/2024), para peserta menerima materi secara tertulis dan langsung praktek lapangan. Sehingga benar-benar memahami upaya-upaya penyelamatan atau mengevakuasi rekan-rekannya jika terjadi tragedi di kapal.

“Harapan saya, semua awak kapal tradisional maupun lokal memiliki sertifikat. Agar bisa menjamin bahwa mereka mampu mengoperasikan kapal dan menangani kejadian di kapal nantinya,” kata Hendry Prastio, koordinator DPM Poltekpel Banten.

Hendry juga menyampaikan pesan yang paling penting kepada para peserta, agar jangan membuat sampah di laut. Artinya, apa-apa yang menimbulkan sampah agar dibuang atau dimusnahkan di darat. Jangan sampai mengotori laut dengan sampah.

“Laut kita ini sudah bagus, jangan mengotorinya sampah. Itu yang perlu saya pesan kepada peserta. Ini kita sampaikan bagaimana hidup sehat di kapal,” ucapnya.

Sementara itu, panitia pelaksana dari KSOP Tanjung Balai Karimun, Cahyo mengatakan, pada hari kedua ini, sebanyak 4 orang tidak lulus.

“Seleksi kita lakukan secara ketat. Peserta harus benar-benar sehat rohani dan jasmani selama diklat. Kemarin, ada 4 orang yang tidak kita luluskan karena buta warna. Dan peserta yang paling tua berusia 73 tahun dan termuda 16 tahun,” terang Cahyo.

Sementara, salah satu peserta Lian Heng (73) sangat berterima kasih telah turut serta dalam diklat ini. Sebab, selama bekerja dikapal dirinya belum pernah mendapatkan ilmu seperti ini.

“Ini sangat berharga sekali bagi saya, walaupun sudah berumur tapi tidak kalah dengan yang muda semangatnya’,” katanya. (yra)

Pos terkait