Edvin Aldrian berpendapat perlu adanya inovasi lain untuk menyiasati dampak perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan. Salah satu yang penting adalah penyediaan benih yang tahan terhadap perubahan cuaca yang disesuaikan dengan kondisi lahan.
“Sudah ada benih unggul yang bisa ditanam di lahan yang banyak airnya, lahan kering, dan juga lahan yang agak asam, tapi kembali bagaimana petani mau menanam atau tidak,” ujar Edvin yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kelompok Kerja I Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC)
Ahmad Juang Setiawan, peneliti iklim dari Traction Energy Asia, mengatakan pemerintah perlu menggali kembali kearifan lokal di bidang pola tanam, yang pada masa lalu masih banyak digunakan masyarakat.
Upaya masyarakat lokal yang terbukti mampu bertahan menghadapi perubahan iklim di sejumlah daerah di Indonesia, perlu menjadi pelajatan dan masukan bagi semua pihak untuk tetap bertahan di tengah krisis iklim yang mengancam ketersediaan pangan.
“Menjadi masukan kepada pemerintah maupun daerah lain untuk coba menggali lagi kearifan-kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah tentunya, dan diversifikasi sistem pertanian, bahwa tidak bisa seluruh wilayah itu menggunakan satu sistem yang sama dengan ciri khas masing-masing wilayah, baik curah hujan, kelerengan, dan sebagainya,” tutur Ahmad. [voa]
Jaringan: VOA






