Hadapi Perubahan Iklim, Pemerintah Siapkan Daerah Penyangga Produksi Pangan

Padi siap panen di Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Padi siap panen di Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

SURABAYA – Pemerintah berencana menyiapkan sejumlah lahan di luar Jawa yang akan digunakan sebagai daerah penyangga produksi pangan. Kawasan-kawasan penyangga itu diharapkan bisa memastikan ketersediaan pangan pada saat terjadi gangguan produksi akibat perubahan iklim.

Budi Waryanto, pelaksana tugas Direktur Ketersediaan Pangan, Badan Pangan Nasional, mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah lahan di luar Jawa sebagai kawasan penyangga produksi pangan nasional untuk memastikan keberlanjutan ketersediaan pangan di tengah krisis iklim.

Bacaan Lainnya

“Nanti akan ada kawasan-kawasan yang potensial untuk menjadi penyangga produksi nasional kita. Tentunya ada di Kalimantan. Seingat saya ada ya yang sedang dirancang untuk 2025, kawasan ada di Sumatra, ada juga di Kalimantan sedikit, Sulawesi, bahkan di Papua,” kata Budi dalam diskusi bertema “Pentingnya Keberlanjutan Pangan di Tengah Krisis Iklim,” Selasa (5/3/2024).

Budi tidak menyebutkan lebih detail mengenai luasan kawasan penyangga produksi pangan dan jenis tanaman pangan yang akan dikembangkan. Namun, kawasan itu akan ditanami dengan tanaman pangan sesuai dengan kebutuhan nasional.

Budi memaparkan hal itu untuk menanggapi pertanyaan seputar lonjakan harga-harga pangan di sebagian besar wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga pangan itu memantik kekhawatiran masyarakat akan ketersediaan pasokan bahan pangan, meski pemerintah sudah menegaskan pasokannya mencukupi.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) dalam beberapa bulan terakhir harga-harga bahan pokok, terutama beras, cabai merah, dan bawang putih, mengalami kenaikan signfikan.

Harga rata-rata bulanan beras kualitas bawah I di pasar tradisional di semua provinsi, misalnya, naik lebih dari 9 persen dari Rp14.550 per kilogram pada Januari menjadi Rp15.900/kg pada awal Maret. Harga cabai merah juga melonjak lebih dari 15 persen dari Rp61.450/kg pada Januari menjadi Rp71.100/kg.

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa kenaikan sejumlah bahan pokok tersebut salah satunya dipicu oleh faktor perubahan iklim. Iklim yang tidak menentu yang diperparah dengan fenomena El Nino, mempengaruhi pola tanam dan hasil panen komoditas pertanian.

Selain perubahan iklim, menurut Edvin Aldrian, Guru Besar Meteorologi dan Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nsional (BRIN), ketegangan geopolitik juga turut berperan menaikkan harga pangan. Terutama bahan pangan yang harus diimpor, seperti gandum yang menjadi bahan membuat roti, mi dan lain-lain.

“Secara komprehensif, iklim iya, tapi hal lain yang kita amati adalah ketidakstabilan geopolitik. Ini ternyata kita sudah amati, Ukraina, misalnya yang sebagai sumber impor gandum kita karena kita tidak bisa menanam gandum, itu terganggu,” katanya.

Total Views: 482

Pos terkait