Baik pernyataan kementerian maupun laporan TVBS tidak mengidentifikasi para peretas atau menyebutkan di mana mereka berada.
Kementerian Luar Negeri Taiwan menolak mengomentari kebocoran tersebut.
Chunghwa, sebuah perusahaan publik, mengumumkan dalam sebuah pernyataan kepada bursa saham Taiwan pada Kamis (29/2/2024) bahwa mereka telah “melakukan penyelidikan untuk mengklarifikasi penyebab dugaan insiden tersebut”. “Saat ini, tidak ada dampak signifikan terhadap operasional perusahaan,” katanya mengacu pada potensi kerugian akibat pencurian data.
Pejabat pemerintah mengatakan bahwa ancaman dunia maya yang terus-menerus adalah bentuk “pelecehan zona abu-abu” yang dilakukan oleh Tiongkok hampir setiap hari, termasuk menerbangkan pesawat tempur di sekitar pulau tersebut dan mengirim kapal ke perairan sekitarnya.
Meskipun tidak melakukan tindakan perang yang jelas, taktik ini cukup membuat militer Taiwan dan badan keamanan digital tetap sibuk, kata para ahli.
Tahun lalu, Microsoft memperingatkan adanya ancaman dari kelompok yang berbasis di Tiongkok bernama Flax Typhoon yang menarget Taiwan. Raksasa teknologi AS tersebut mengatakan Flax Typhoon bermaksud “melakukan spionase dan mempertahankan akses” ke berbagai organisasi Taiwan selama mungkin. [voa]
Jaringan: VOA






