Makna Mendalam Peringatan Isra’ Mi’raj: dari Spiritualitas hingga Solidaritas

Dai kondang Habib Alwi Bin Muhammad Al-Atthos memberikan tausiah dalam peringatan Isra' Mi'raj, pembacaan maulid dhiyaul lami disertai majelis zikir di Masjid Al Furqon, Kelurahan Sei Lakam, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Selasa (6/2/2024) malam. (dokumentasi pribadi/andre)

Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj, peristiwa luar biasa dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Lebih dari sekadar kisah ajaib, perjalanan spiritual ini sarat makna dan hikmah yang relevan hingga kini.

Isra’ Mi’raj bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan penguatan batiniah Nabi Muhammad SAW. Diterbangkan dalam semalam dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu diangkat menuju Sidratul Muntaha, beliau menyaksikan keagungan Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta. Pengalaman ini meneguhkan keimanan dan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan dakwah.

Bacaan Lainnya

Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT. Shalat menjadi tiang agama, sarana komunikasi hamba dengan Penciptanya, dan penolong bagi umat di akhirat kelak.

Perjalanan ke Baitul Maqdis memiliki dimensi kesatuan dan kesetaraan. Tempat suci tersebut menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia, menyatukan hati dan langkah mereka dalam ibadah. Peringatan Isra’ Mi’raj menjadi momen untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sesama muslim.

Bagi umat Islam, peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar seremoni. Momen ini menjadi ajang untuk bermuhasabah, menilai diri sendiri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Kita diajak meneladani keteguhan iman Nabi Muhammad SAW, memperbanyak ibadah shalat, dan senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan.

Kisah Isra’ Mi’raj juga membawa pesan universal. Perjalanan yang melampaui batas ruang dan waktu ini menunjukkan keagungan Tuhan yang tak terbatas. Pesan keimanan, keteguhan, dan optimisme yang terkandung di dalamnya dapat dipetik oleh semua orang, terlepas dari latar belakang agama dan keyakinan.

Mari jadikan peringatan Isra’ Mi’raj lebih dari sekadar tradisi. Jadikan ini momentum untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat meraih berkah dan hikmah dari peristiwa spiritual yang istimewa ini.

Peringatan Isra’ Mi’raj di Karimun

Di Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau, peringatan Isra’ Mi’raj diadakan setiap tahun, sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Hampir setiap masjid menggelar tabligh akbar atau majelis zikir memberikan pencerahan terhadap umat Islam tentang makna yang dapat dipetik dari perjalanan nabi akhir zaman, Muhammad SAW.

Salah satunya di Masjid Al Furqon, Kelurahan Sungai Lakam Barat, Kecamatan Karimun. Masjid ini mengundang dai kondang yang merupakan Pengasuh Majelis Al Munawwir Bekasi, Habib Alwi Bin Muhammad Al-Atthos pada Selasa (6/2/2024) malam.

Habib Alwi, dalam kesempatan itu mengajak jamaah untuk memaknai peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sebagai momentum untuk memperkuat tiang agama, yakni shalat 5 waktu.

“Perjalanan mi’raj Rasulullah ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat dari Allah SWT. Artinya, shalat merupakan ibadah yang sangat penting. Shalat merupakan salah satu Rukun Islam yang wajib kita laksanakan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Karimun Muhammad Firmansyah yang turut hadir dalam kesempatan itu juga mengajak umat Islam agar merefleksikan kembali makna Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga berharap tabligh akbar itu menjadi perekat bagi umat Islam untuk menjaga tali silaturahmi, saling tolong dan saling peduli.

“Selamat memperingati Isra’ Mi’raj, semoga membawa kedamaian dan keberkahan bagi kita semua,” kata Sekda Firmansyah. (ms)

Editor: Anton Marulam

Total Views: 338

Pos terkait