Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Desember 2023 sebesar 2,61 persen, jauh lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 5,51 persen.
JAKARTA – Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan inflasi pada Desember 2023 mencapai 0,41 persen lebih besar dibandingkan pada November 2023 yakni 0,38 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun pada Desember 2023 mencapai 2,61 persen, jauh lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama pada 2022 yang mencapai 5,51 persen.
“Di luar periode terdampak pandemi yakni tahun 2020 dan 2021, inflasi tahun 2023 merupakan inflasi terendah dalam 20 tahun terakhir,” ujar Amalia di Jakarta, Selasa (2/1/2024).
Amalia menambahkan penyumbang utama inflasi pada Desember 2023 secara tahunan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, di antaranya berasal dari komoditas beras, cabai merah, dan rokok kretek filter.
Data BPS juga menunjukkan inflasi tahunan terjadi di seluruh atau 90 kota yang disurvei BPS. Adapun kota yang mengalami inflasi paling tinggi yaitu Sumenep (5,08 persen) dan paling rendah Bandung (0,63 persen).
“Terdapat 50 kota mengalami inflasi tahunan lebih tinggi dari inflasi nasional. Capaian ini cukup baik jika kita bandingkan dengan kondisi 2022, karena sebelumnya terdapat 63 kota mengalami inflasi tahunan yang lebih tinggi daripada nasional,” tambahnya.
Selain itu, BPS juga menyoroti sejumlah peristiwa penting yang turut berpengaruh terhadap inflasi. Di antaranya penurunan harga minyak mentah di pasar internasional dalam beberapa bulan terakhir dan dampak El nino yang diprediksi hingga April 2024, serta penyesuaian BI rate.
“Pertamina beberapa kali telah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, menyesuaikan harga internasional. Tercatat BBM nonsubsidi 2023 lebih rendah dibandingkan (dengan harga pada) Desember 2022,” tambahnya.





