Pengamat pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudorimenyebut dampak El-Nino diperkirakan masih akan berkepanjangan. Fenomena cuaca ini membuat musim panen raya lebih lambat sehingga masa paceklik lebih panjang, Ia memperkirakan bahwa panen raya padi baru akan terjadi akhir April atau bahkan awal Mei.
Maka dari itu, katanya, langkah impor memang dibutuhkan untuk menjaga cadangan beras pemerintah.
“Kuota impor itu sepertinya sebagai antisipasi tanam dan panen yang mundur. Ini membuat paceklik lebih lama. Awal Desember ini saya ke Jember naik kereta dari Jakarta. Sebagian wilayah Jateng yang berbatasan dengan Jatim, juga di Jatim, mayoritas sawah masih bera. Hanya sebagian kecil yang menyiapkan bibit padi. Semula saya perkirakan Desember ini sudah tanam serentak karena hujan sudah merata. Tapi ini meleset,” ungkap Khudori.
Meski begitu, ia memperingatkan pemerintah bahwa kuota impor tersebut harus dihitung dengan cermat sesuai dengan kebutuhan nasional. Kelebihan kuota impor bisa berdampak kepada harga di pasaran dan di tingkat petani.
Masih terkait pangan, Khudori mempertanyakan langkah Kementerian Pertanian yang sewaktu di bawah kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo (SYL) terkait program percepatan tanamnya.
“Kemarin-kemarin kan kementerian teknis, yakni Kementan, sudah melakukan percepatan tanam. Istilah mereka culik tanam. Saat SYL masih menjabat kan bilang siapkan 500 ribu hektare lahan untuk antisipasi. Ini perlu ditanya ke Kementan bagaimana hasil dan progresnya,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






