Sembilan Tentara Zionis Tewas di Gaza, Bukti Hamas Masih Melawan

Tentara Israel bersiap memasuki Jalur Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di perbatasan Israel dengan Gaza di Israel selatan, 13 Desember 2023. (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)
Tentara Israel bersiap memasuki Jalur Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di perbatasan Israel dengan Gaza di Israel selatan, 13 Desember 2023. (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)

Sedikitnya sembilan tentara Zionis Israel tewas diserang pejuang Hamas dalam penyergapan di perkotaan, kata militer Israel pada Rabu (13/12/2023.

Tewasnya tentara Israel tersebut merupakan sebuah bukti perlawanan yang keras. Hamas masih bertahan meski sudah lebih dari dua bulan dibombardir dengan dahsyat oleh pasukan zionis.

Bacaan Lainnya

Penyergapan di lingkungan padat tersebut terjadi setelah militer Israel berulang kali mengklaim bahwa mereka berhasil merusak struktur komando Hamas di Gaza utara, mengepung sisa-sisa anggota Hamas, membunuh ribuan anggotanya dan menahan ratusan lainnya.

Pertempuran tersebut menunjukkan bagaimana kegigihan Israel untuk menghancurkan Hamas — bahkan setelah pasukan militer pendudukan melepaskan salah satu serangan paling merusak di abad ke-21.

Serangan udara dan darat Israel menewaskan lebih dari 18.600 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan Gaza. Kota Gaza dan kota-kota sekitarnya berhasil dihancurkan. Hampir 1,9 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Krisis kemanusiaan yang diakibatkan pembombardiran yang dilakukan Israel tersebut memicu kemarahan internasional. Amerika Serikat (AS) berulang kali meminta Israel untuk mengambil tindakan yang lebih serius untuk menyelamatkan warga sipil, meskipun Washington mengabaikan seruan internasional untuk melakukan gencatan senjata dan justru mempercepat bantuan militer kepada sekutu dekatnya itu.

Bentrokan terjadi sepanjang malam hingga Rabu (13/12) di berbagai wilayah, terutama di Shijaiyah, sebuah lingkungan padat yang menjadi lokasi pertempuran besar selama perang Israel dan Hamas pada 2014.

“(Pertempuran) itu menakutkan. Kami tidak bisa tidur,” kata Mustafa Abu Taha, seorang buruh pertanian Palestina yang tinggal di lingkungan tersebut, melalui telepon. “Situasinya semakin buruk, dan kami tidak punya tempat yang aman untuk dituju.”

Penyergapan itu terjadi pada Selasa (12/12) di Shijaiyah, saat pasukan Israel yang tengah menyisir sekelompok bangunan kehilangan komunikasi dengan empat tentara yang diserang, kata militer. Ketika tentara lainnya melancarkan operasi penyelamatan, mereka disergap dengan tembakan keras dan bahan peledak.

Di antara sembilan orang yang tewas adalah Kolonel Itzhak Ben Basat, 44 tahun, perwira paling senior yang tewas dalam operasi darat, dan Letkol Tomer Grinberg, seorang komandan batalion.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan itu adalah “hari yang sangat sulit.” Namun dia menolak seruan internasional untuk melakukan gencatan senjata.

“Kami terus melanjutkan sampai akhir, tidak ada pertanyaan. Saya mengatakan hal ini meskipun ada rasa sakit yang luar biasa dan tekanan internasional. Tidak ada yang bisa menghentikan kami, kami akan terus melanjutkannya hingga akhir, hingga kemenangan, tidak kurang,” katanya dalam pembicaraan dengan para komandan militer. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: M Sarih

Total Views: 264

Pos terkait