Terowongan Karimun-Kukup Butuh Rp30 Triliun

Karimun (Jurnal) – Pembangunan terowongan bawah laut yang menghubungkan Kabupaten Karimun di Provinsi Kepulauan Riau dengan Kukup di Johor, Malaysia dinilai menjadi pilihan terbaik dibandingkan pembangunan jembatan.

Direktur Pusat Penelitian Universitas Teknologi Malaysia (UTM) Prof DR Eko Supriyanto ketika menggelar pertemuan dengan Bupati Karimun Nurdin Basirun di Kantor Bupati Karimun, Jumat mengatakan, anggaran untuk pembangunan terowongan bawah laut itu sekitar Rp30 triliun, atau setara dengan RM8 miliar.

“Ada investor yang setujui membiayai pembangunan terowongan bawah laut berikut fasilitas terminalnya. Nilainya sekitar Rp30 triliun atau RM8 miliar,” kata Eko Supriyanti di depan Bupati Nurdin Basirun.

Pemerintah Malaysia, menurut Eko serius menggarap proyek prestisius dan tampak dari ketertarikan investor negara itu untuk membangunnya.

Ia mengatakan, pembangunan terowongan bawah laut merupakan pilihan terbaik dibandingkan jembatan, baik dari aspek ekonomi, politik, keselamatan pelayaran dan aspek lainnya. Biayanya tidak jauh beda dengan jembatan yang juga ditaksir mencapai Rp30 triliun.

“Untuk di Indonesia, juga sudah ada investor mendanainya. Namun persetujuannya tetap harus menunggu dari keputusan Pemerintah Republik Indonesia,” ucap Eko.

Terowongan tersebut, direncanakan dibangun dengan menggali 30 hingga 40 meter di kedalaman dasar laut. Sedangkan panjangnya sekitar 17,5 kilometer.

Pembangunan terowongan bawah laut diyakini dapat meningkatkan perdagangan Indonesia dengan negara-negara Asia Tenggara.
Gagasan terowongan itu mencuat dalam pertemuan bilateral pertama di  Universitas Teknologi Malaysia, 21 Januari 2014.

Hadir dalam pertemuan itu Bupati Pelalawan, Bupati Karimun, Konjen RI di Johor Bahru, Deputi Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT, pakar pembangunan terowongan, serta pakar pembangunan jembatan UTM ini, membahas studi kelayakan pembangunan jembatan, dan terowongan Indonesia-Malaysia.

Studi kelayakan meliputi sektor ekonomi, teknologi, sosial, budaya, dan politik, serta kerja sama internasional. Juga dibahas dampak dari pembangunan JRL terhadap kemajuan di Kepulauan Riau, dan Riau daratan, serta Johor Bahru.

“Efek dominonya adalah terhubungnya jalur perdagangan antarnegara, sektor pariwisata, ekspor impor dan lainnya akan ikut terdongkrak,” ucapnya.

“Terowongan bawah laut pilihan terbaik,” tegasnya.

Bupati Karimun Nurdin Basirun mengatakan kemajuan teknologi sudah canggih sehingga bisa memperkecil risiko. terutama bagi lalulintas pelayaran internasional di Selat Malaka.
“Pembangunan terowongan bawah laut, bukan lagi sekadar angan, karena sudah dibangun di negara lain.  Kita akan coba membangunnya dengan APBD kabupaten, provinsi dan APBN. Tapi kalau ada investor, mengapa tidak kita serahkan saja pada mereka,” kata dia. (rus)

Total Views: 204

Pos terkait