Hari AIDS Sedunia: Kemenkes Dorong Komunitas Berperan agar ODHIV Bisa Akses ARV

Ginan Koesmayadi, seorang penderita HIV positif dan pendiri sasana tinju Rumah Cemara di Bandung, sedang berlatih, 15 April 2016. (Foto: AFP)
Ginan Koesmayadi, seorang penderita HIV positif dan pendiri sasana tinju Rumah Cemara di Bandung, sedang berlatih, 15 April 2016. (Foto: AFP)

JAKARTA – Komunitas masyarakat dinilai dapat memainkan peranan untuk mendampingi dan membantu “Orang dengan HIV” (ODHIV) dalam mengakses pengobatan dan layanan pemeriksaan kesehatan. Kementerian Kesehatan menyatakan baru 40 persen ODHIV di Indonesia yang mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengatakan sejak 2010 hingga 2022 telah terjadi kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan penurunan kasus baru sebesar 54 persen secara nasional.

Bacaan Lainnya

Penurunan itu merupakan dampak positif dari akselerasi pengendalian yang dipusatkan pada intervensi pencegahan dan ekspansi berskala besar terapi antiretroviral. Meskipun demikian, perebakan luas COVID-19 pada 2020-2022 telah memperlambat upaya eliminasi HIV-AIDS selambat-lambatnya pada 2030.

“Jadi awal-awal dulu itu kan program tidak menyediakan obat, tapi setelah itu kita bisa menyediakan obat secara gratis dari program Kementerian Kesehatan sehingga ekspansinya, terapinya bisa lebih bagus lagi,” kata Imran Pambudi dalam Temu Media Hari AIDS Sedunia 2023, Kamis (30/11/2023).

Peringatan Hari AIDS sedunia pada 1 Desember tahun ini mengangkat tema global “Biarkan Komunitas Memimpin.”

Menurut Program Gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS), dunia dapat mengakhir AIDS, dengan melibatkan komunitas secara signifikan. Organisasi masyarakat yang hidup dengan, berisiko, atau terdampak oleh HIV adalah garda terdepan dalam penanggulangan HIV.

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala penyakit akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.

Hingga September 2023, dari estimasi 515.455 orang dengan HIV (ODHIV), yang baru terindentifikasi sekitar 454 ribu orang atau 88 persen. Dari jumlah itu, 209 ribu ODHIV atau sekitar 40 persen di antaranya sedang mendapat pengobatan antiretrovilar (ARV). Untuk itu dibutuhkan dukungan komunitas agar semakin banyak ODHIV yang dapat mengakses pengobatan.

“Komunitas lah yang mungkin mempunyai akses yang lebih besar di dalam pendampingan kepada ODHIV dan bisa membantu mereka untuk bisa mengakses layanan terapi maupun layanan laboratorium,” tambahnya.

Antiretroviral (ARV) merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

Total Views: 620

Pos terkait