Di tengah meningkatnya seruan internasional untuk menghentikan permusuhan secara kemanusiaan, kondisi di wilayah kantong pantai tersebut semakin menyedihkan akibat serangan Israel dan pengetatan blokade. Pasokan makanan, bahan bakar, air minum dan obat-obatan hampir habis.
Dr Fathi Abu al-Hassan, seorang pemegang paspor AS yang menunggu untuk menyeberang ke Mesir pada Rabu, menggambarkan kondisi yang sangat buruk di Gaza tanpa air, makanan atau tempat berlindung.
“Saat kami membuka dan menutup mata, yang kami lihat adalah orang-orang yang meninggal,” katanya.
Sejumlah rumah sakit, termasuk satu-satunya rumah sakit kanker di Gaza, mengalami kesulitan karena kekurangan bahan bakar yang memaksa mereka tutup. Israel menolak mengizinkan konvoi kemanusiaan membawa bahan bakar, dengan alasan kekhawatiran bahwa Hamas akan mengalihkannya untuk keperluan militer.
Ashraf Al-Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan pembangkit listrik utama di RS Indonesia tidak lagi berfungsi karena kekurangan bahan bakar.
Rumah sakit telah beralih ke generator cadangan tetapi tidak lagi mampu memberi daya pada lemari es kamar mayat dan generator oksigen. “Jika kami tidak mendapatkan bahan bakar dalam beberapa hari ke depan, kami pasti akan mengalami bencana,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dijadwalkan bertolak pada Kamis untuk kunjungan keduanya ke Israel dalam waktu kurang dari satu bulan. Ia berencana bertemu para pejabat Israel, termasuk PM Benjamin Netanyahu, pada Jumat (3/11), untuk menyuarakan solidaritas tetapi juga akan menekankan perlunya meminimalkan korban warga sipil Palestina, kata juru bicaranya.





