Fabby Tumiwa, direktur eksekutif lembaga kajian Institute for Essential Services Reform, yang merupakan bagian dari kelompok kerja teknis JETP, mengatakan lebih baik mengecualikan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk saat ini daripada menunda rencana tersebut.
“Kalau menunggu analisa captive power, kami khawatir JETP tidak akan maju. Saya kira ini keputusan yang bagus, jadi kita bisa mulai dengan informasi yang kita punya,” kata Tumiwa.
Kelompok Mitra Internasional (International Partners Group) yang terdiri dari para donor dan pemberi pinjaman, yang menjadi mitra Indonesia dalam pembuatan perjanjian itu, telah menyetujui keputusan untuk fokus pada dekarbonisasi oleh perusahaan negara, dengan syarat target pengurangan karbon tidak berubah, kata sumber yang menolak disebutkan namanya.
Perusahaan tersebut mengoperasikan jaringan listrik dengan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69 GW, pada akhir tahun 2022, di mana setengahnya menggunakan tenaga batu bara.
CIPP akan menunjukkan hanya $2,5 miliar pendanaan JETP yang dialokasikan untuk penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara, kata Pradana Murti, direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), sebuah perusahaan pembiayaan milik negara yang mengelola dana transisi energi.
Tumiwa mengatakan rencana tersebut akan menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan $95 miliar hingga tahun 2030 untuk mencapai tujuan JETP, sementara sumber pertama mengatakan angka tersebut bisa mencapai $120 miliar. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






