Gimmick Semata
Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan bahwa ajakan makan siang kepada para calon presiden ini hanyalah gimmick untuk memadamkan suasana yang cukup panas setelah anak sulungnya Gibran Rakabuming Raka maju sebagai pasangan Prabowo Subianto pasca putusan Mahkamah Konsitusi (MK).
“Jadi ini upaya untuk menyelamatkan sementara. Diajak lah makan siang, supaya pembicaraan publik terseret ke isu makan siang. Tapi apakah rakyat Indonesia ini cukup bodoh? Hati-hati presiden. Sudah terlalu membuat omongan yang tidak bisa dipegang dengan perbuatan. Dengan makan siang, isu ini akan berganti? Isu nepotisme, isu Mahkamah Keluarga, isu penyalahgunaan kekuasaan lewat MK kemarin. Banyak problem, dan memang diam presiden. Tiba-tiba dengan makan siang ini kita harus puji-puji?,” ungkap Pangi.
Menurutnya, saat ini tingkat kepercayaan publik terhadap Jokowi sudah berada di titik terbawah karena perkataan presiden selalu tidak sesuai dengan apa yang diperbuatnya selama ini.
“Ketauladanan seorang pemimpin itu bisa dipegang antara omongan dengan perbuatan. Apakah mudah orang Indonesia pelupa dan pemaaf? Kita tidak bodoh amat kok. Ini bukan sekali, atau dua kali peristiwa. Kemudian dengan makan siang, kita bisa mengatakan bahwa presiden akan netral? Menurut saya hati-hati jangan percaya dengan gimmick seperti itu. Karena omongannya berbeda dengan perbuatan,” tambahnya.
Pangi pun menyatakan ragu bahwa Jokowi akan bersikap netral dalam pilpres nanti mengingat anaknya menjadi salah satu calon wapres.
“Jangan lupa, di dalam isi pembicaraan politisi, presiden ini DNA-nya DNA politik. Setiap agenda itu harus ada irisan politiknya. Itu bukan ruang kosong. Jadi presiden memahami, dia piawai bagaimana cara meneduhkan laut yang tadinya gelombang, itu dengan makan siang ini. Sehingga publik akan bicara tentang makan siang. Akhirnya lupa lah orang terkait peristiwa MK dan lain-lain,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






