November Diperkirakan Hujan
Dalam kesempatan yang sama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, sesuai dengan hasil prediksi bahwa puncak El-Nino terjadi pada September. Meski begitu, berdasarkan data dari satelit, El-Nino masih akan bertahan hingga akhir Oktober. Dengan begitu, diperkirakan hujan akan mulai turun pada November mendatang.
“November mulai terjadi transisi dari kemarau ke musim hujan. Jadi sebenarnya El-Nino masih akan berlangsung diprediksi moderat sampai akhir tahun dan melemah di Februari-Maret dan berakhir di Maret, artinya masih cukup panjang,” kata Dwikorita.
Meski begitu, dikarenakanya adanya angin monsoon dari arah Asia maka hujan diprediksi akan mulai masuk pada November, sehingga pengaruh El-Nino perlahan akan mulai berkurang.
“Dan untuk itu, masyarakat dimohon selama Oktober kondisinya masih kering, maka tidak dibakar pun bisa terbakar. Jadi jangan mencoba-coba untuk atau dengan sengaja atau tidak sengaja untuk mengakibatkan nyala api, karena pemadaman akan sulit untuk dilakukan,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan sejauh ini pihaknya telah melakukan berbagai upaya guna memadamkan karhutla ini.
Suharyanto menyampaikan bahwa dari sisi operasi udara pihaknya telah mengerahkan 35 helikopter yang terdiri dari 13 helikopter patroli, dan 22 helikopter water bombing yang diarahkan untuk memadamkah karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau dan Jambi.
Selain itu, BNPB kata Suharyanto, juga telah melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC).
“Kemudian untuk TMC, per hari ini (3 Oktober) BNPB sudah melaksanakan 244 kali dengan jumlah garam yang sudah disebar 341.580 kilogram. Sudah hampir dua bulan terakhir TMC dilaksanakan terus menerus, di Riau, Kalbar, NTT, Jawa Barat, Jambi, DKI Jakarta, Kalsel dan Sumsel. Artinya di enam provinsi prioritas karhutla semuanya dilaksanakan TMC,” jelasnya.
Produksi Pangan Berpotensi Turun
Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolby mengungkapkan dampak El-Nino berdampak negatif pada produksi pangan. Khusus untuk beras, Harvick mengatakan produksi bakal turun sebesar 1,2 juta ton.
“Ini sementara yang bisa kita identifikasi kurang lebih 1,2 juta ton. Tapi kalau kita mengacu pada angka produksi kita yang di atas 30 juta ton, mudah-mudahan ini tidak terlalu terdampak serius,” ungkap Harvick.
Maka dari itu, guna mengantisipasi hal tersebut pemerintah telah menyiapkan langkah strategis yakni mengamankan cadangan beras pemerintah (CBP) dengan melakukan impor.
“Sesuai arahan Presiden, ada pun penurunan produksi beras, coba kita atasi sementara ini dengan melakukan kegiatan impor, sebagai salah satu bentuk cadangan pangan, cadangan beras pemerintah. Jadi, untuk menekan harga di pasar, kita coba siasati dengan membanjiri produk, mudah-mudahan ini cukup efektif,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA






