Potensi pemulihan hubungan diplomatik Arab Saudi dan Israel terus mengemuka beberapa minggu terakhir ini. Bagaimana Indonesia melihat hal itu?
JAKARTA (VOA) – Segera setelah Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko – dengan mediasi Amerika – menandatangani Perjanjian Ibrahim pada 2020, yang menandai pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel, nama Arab Saudi pun mulai disebut-sebut.
Hubungan negara kerajaan itu dengan Israel semakin menghangat, sehingga memungkinkan Joe Biden menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pertama yang terbang langsung dari Tel Aviv ke Jeddah pada Juli 2022, setelah Kerajaan Arab Saudi membuka wilayah udaranya untuk penerbangan dari dan ke Israel.
Dan beberapa minggu terakhir ini delegasi resmi Israel bolak-balik ke Riyadh, baik untuk mengikuti sidang Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) guna menentukan situs Warisan Dunia yang baru, maupun untuk konferensi yang diselenggarakan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB. Yang terakhir ini bahkan dipimpin langsung oleh Menteri Pariwisata Haim Katz.
Dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi FOX News, Rabu (27/9) lalu, seusai berbicara di sidang Majelis Umum PBB, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan dengan percaya diri mengatakan hubungan negaranya dengan Arab Saudi semakin dekat meskipun belum ada pergerakan mengenai pembentukan negara Palestina.
“Israel berada di titik puncak terobosan bersejarah yang mengarah pada perjanjian damai dengan Arab Saudi,” ujarnya seraya menambahkan “banyak hal yang tidak terbayangkan beberapa tahun yang lalu kini terjadi,” ujar Netanyahu.
Pernyataan yang kurang lebih sama juga disampaikan Perdana Menteri Arab Saudi yang sekaligus Putra Mahkota negara kerajaan itu, Mohamad bin Salman, dalam wawancara dengan stasiun televisi yang sama pekan lalu.





