Dalam siaran pers tertulis yang diterima VOA, Bambang menuturkan konsorsium investasi di IKN yang dinamakan Groundbreaking Konsorsium Nusantara terdiri dari sepuluh investor, yakni Agung Sedayu Group, Salim Group, Sinarmas, Pulauintan, Adaro Group, Barito Pacific, Mulia Group, Astra Group, Kawan Lama Group, dan Alfamart group. Ivestasi mereka, menurutnya, mencapai Rp20 triliun.
Beberapa investor di dalam konsorsium tersebut, jelasnya, juga ada yang terlibat dalam proses pembangunan perhotelan, pusat perbelanjaan, rumah sakit, pendidikan, dan perkantoran. “Semua pembangunan tersebut dilaksanakan dengan prinsip gotong royong,” kata Bambang.
“Pada dasarnya pembangunan di IKN dilakukan tidak hanya sebatas membangun sebuah kota, namun pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kota to work, to live, and to play. Selain itu, konsorsium ini memiliki kepedulian terhadap terbangunnya IKN, bukan saja sebagai kota yang layak huni (livable city), namun juga sebagai kota yang dicintai (lovable city),” tambahnya.
enurutnya, para investor diprediksi masih akan tetap bersikap wait and see hingga beberapa waktu ke depan. Ia mencontohkan, para pengembang yang berencana akan membangun rumah sakit atau sekolah, kemungkinan masih akan menunggu hingga mengetahahi pasti berapa banyak masyarakat yang akan tinggal di IKN.
“Pengembang banyak yang berniat membangun rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan. Pertanyaanya itu semua siapa yang akan menggunakan? Dia bikin rumah sakit, Ok, rumah sakit kelas apa, dan untuk berapa orang pasiennya. Kalau dia bikin besar berarti akan ada (potensi) kekosongan karena belum banyak orang sakit di sana,” ungkap Nirwono.
Lebih jauh, Nirwono mengatakan, setelah mempertimbangkan berbagai perkembangan pembangunan di IKN ini, ia memprediksi hingga Agustus 2024 yang akan terbangun bukanlah sebuah kota yang hidup, melainkan hanya sebatas kantor pemerintahan pusat yang terdiri dari Istana Kepresidenan, kantor presiden, kantor kementerian, serta rumah susun untuk para PNS, TNI dan Polri.
“Itu semua akibat dari berpacu dengan waktu. Artinya semua dikejar target 2024 Agustus upacara (17 Agustus) di situ. Ini membuat semuanya baik itu dari sisi perencanaan, pembangunan dan segalanya menjadi tidak ideal, yang maksudnya (pembangunan IKN Nusantara) ini tidak bisa menjadi rujukan untuk membangun sebuah kota yang ideal,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






