AS akan Pasok Amunisi Uranium yang Mampu Menembus Tank Lapis Baja ke Ukraina

Tank Tentara Yugoslavia, yang hancur selama serangan udara NATO terhadap Tentara Yugoslavia di Klina pada 999. Sejumlah negara telah melaporkan kasus kanker di kalangan tentara muda yang diduga karena uranium terdeplesi. (Foto: Reuters)
Tank Tentara Yugoslavia, yang hancur selama serangan udara NATO terhadap Tentara Yugoslavia di Klina pada 999. Sejumlah negara telah melaporkan kasus kanker di kalangan tentara muda yang diduga karena uranium terdeplesi. (Foto: Reuters)

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk pertama kalinya akan memasok amunisi yang mampu menembus lapis baja kontroversial yang mengandung uranium terdeplesi (depleted uranium) ke Ukraina, menurut dokumen yang dilihat oleh Reuters dan dikonfirmasi secara terpisah oleh dua pejabat AS.

Uranium terdeplesi adalah produk sampingan pengayaan nuklir untuk pembangkit listrik atau senjata nuklir.

Bacaan Lainnya

Peluru-peluru tersebut, yang dapat membantu menghancurkan tank-tank Rusia, merupakan bagian dari paket bantuan militer baru untuk Ukraina yang akan diumumkan AS dalam satu minggu mendatang.

Amunisi tersebut dapat ditembakkan dari tank-tank Abrams AS yang, menurut seseorang yang akrab dengan masalah tersebut, diperkirakan akan dikirimkan ke Ukraina dalam beberapa minggu mendatang.

Salah satu pejabat mengatakan bahwa paket bantuan yang akan datang diperkirakan bernilai antara $240 juta (sekitar Rp3,65 triliun pada kurs saat ini) dan $375 juta (Rp5,7 triliun) tergantung pada apa yang disertakan.

Nilai dan isi paket tersebut masih dalam tahap penyelesaian, kata para pejabat. Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Meskipun Inggris mengirim amunisi uranium ke Ukraina pada awal tahun ini, rencana Washington tersebut akan menjadi pengiriman amunisi pertama AS.

Pengiriman bantuan itu juga kemungkinan besar akan menimbulkan kontroversi menyusul keputusan pemerintahan Biden sebelumnya untuk memasok munisi tandan atau bom klaster ke Ukraina. Pasalnya munisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak terhadap warga sipil.

Penggunaan amunisi uranium terdeplesi mengundang perdebatan sengit. Pihak-pihak yang kontra dengan penggunaannya, seperti Koalisi Internasional Pelarangan Senjata Uranium, mengatakan ada risiko kesehatan yang berbahaya dari menelan atau menghirup debu uranium itu, termasuk di antaranya kanker dan cacat lahir.

Total Views: 641

Pos terkait