Hizbullah memiliki jaringan terowongan yang luas di Lebanon selatan, kata kelompok tersebut dan Israel. Terowongan tersebut bertambah setelah perang Hizbullah-Israel pada 2006, menurut laporan 2021 oleh lembaga kajiam Alma. Israel memperkirakan terowongan panjangnya bisa mencapai ratusan kilometer.
Komandan lapangan Hizbullah menyatakan bahwa terowongan itu “adalah fondasi pertempuran.” Ia menambahkan bahwa Hizbullah telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk membangunnya. “Waktunya telah tiba,” ujarnya.
Andreas Krieg, dosen senior di School of Security Studies di King’s College London, mengatakan bahwa meskipun kemampuan Hizbullah telah menurun, mereka masih mampu meluncurkan roket dengan intensitas tinggi ke Israel. Dia juga menyebutkan bahwa rudal balistik tetap menjadi senjata pilihan terakhir bagi kelompok tersebut.
Hizbullah mengatakan telah meningkatkan intensitas serangan dalam beberapa hari terakhir.
Sebelum konflik terakhir, World Factbook dari Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat mengatakan Hizbullah memiliki lebih dari 150.000 rudal dan roket.
Kedua sumber tersebut menyatakan bahwa Hizbullah memutuskan tidak menggunakan roket-roket terkuatnya, termasuk rudal berpemandu presisi, sebagai cadangan untuk menghadapi perang yang panjang.
Hizbullah memutuskan hal itu menghindari serangan Israel yang membabi buta dan menyasar infrastruktur Lebanon, seperti bandara Beirut, jalan raya, dan jembatan.
Sumber ketiga mengatakan Hizbullah tidak menargetkan kota-kota Israel, seperti Tel Aviv, dengan senjata terkuatnya karena tindakan seperti itu akan memberi Israel alasan untuk menyerang Lebanon lebih berat lagi.
Tidak diragukan lagi serangan Israel cukup memberi pukulan bagi Hizbullah. Pada September, ribuan perangkat komunikasi yang dipasangi bom yang digunakan oleh anggota Hizbullah diledakkan, sebuah serangan yang tidak dikonfirmasi atau disangkal Israel. [voa]
Jaringan: VOA






