Tim SAR di Turki dan Suriah berpacu dengan waktu pada Kamis (9/2) di tengah kekurangan peralatan yang digunakan untuk menemukan korban yang terkubur di reruntuhan bangunan yang roboh akibat gempa kuat yang menghantam wilayah itu pada Senin (6/2). Sejauh ini sedikitnya 17.000 orang tewas akibat gempa tersebut.
Badan penanggulangan bencana Turki mengatakan pada Kamis (9/2) bahwa sekitar 110.000 personel terlibat dalam upaya penyelamatan dan 5.500 kendaraan seperti traktor, derek, buldoser, dan ekskavator telah dikirim ke lokasi bencana untuk membantu upaya penyelamatan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi daerah dekat pusat gempa di Kota Gaziantep dan perbatasan Turki-Suriah.
Dia menghadapi rasa frustrasi yang meningkat dari para penyintas yang mencari orang yang mereka cintai atau menunggu bantuan dari pemerintah. Erdogan mengakui adanya masalah dengan tanggapan secara darurat atas gempa berkekuatan 7,8 magnitudo itu.
“Tidak mungkin bersiap menghadapi bencana seperti ini,” kata Erdogan. “Kami tidak akan meninggalkan warga kami tanpa perawatan.” Dia menunjuk cuaca musim dingin dan bagaimana gempa bumi telah menghancurkan landasan pacu di Bandara Hatay sebagai hal yang mengganggu kelancaran upaya bantuan.
Tim penyelamat masih menemukan orang hidup, tetapi tidak dapat menjangkau mereka tanpa peralatan dan keahlian yang dibutuhkan, bahkan selagi mereka dapat mendengar teriakan minta tolong.
Beberapa tempat pencarian juga telah menjadi arena perayaan ketika ada orang yang ditemukan dalam keadaan hidup dan diberi perawatan medis. Namun, upaya menyingkirkan puing-puing juga secara tidak sengaja sering menambah jumlah korban.
Erdogan mengumumkan pada Kamis (9/2) bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 14.000 di negaranya, dan lebih dari 63.000 lainnya terluka.
Di Suriah, di mana ada keluhan serupa tentang tanggapan yang lambat, sedikitnya 3.100 orang tewas dan lebih dari 5.000 lainnya terluka, menurut angka dari pemerintah Damaskus dan kelompok-kelompok penyelamat.






