Hidup Bersama Isu

Catatan Lepas Jodhi Yudono*

Tuhan, ampuni kami. Lantaran kami telah gelap mata dan tak lagi bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang hak dan mana yang bathil.

Bacaan Lainnya

Jalan di muka sedemikian bersimpang-simpang, dan pada tiap ujungnya ada papan nama bertuliskan, “jalan kebenaran”, “jalan kebajikan”, “jalan nurani”, dan nama-nama lainnya yang menunjukan pekerti baik. Dan pada tiap papan nama itu, di bawahnya, seorang orator yang lebih mirip penjual obat mendagangkan kebenaran versi mereka masing-masing.

Maka, di jalan bersimpang-simpang itu, kerumumnan manusia yang semula berkelompok sesuai minatnya, pada tengah hari telah berbaur menjadi lautan manusia yang bingung oleh tawaran-tawaran kebenaran yang membingungkan mereka. Sebentar mereka lari ke kanan, ke kiri, lalu berdesakkan ke depan dan ke belakang.

Seperti itulah kini kami, Tuhanku. Bingung oleh kebenaran yang diperdagangkan. Bahkan di antara mereka ada yang terang-terangan mengatasnamakan Engkau Yang Penyayang, padahal di punggung mereka berselempang pedang dan kelewang serta kebencian.

Ampuni kami Tuhan, karena telah menggantikan engkau dengan tuhan-tuhan baru. Kami kini lebih percaya pada tuhan isu, tuhan kami adalah kata orang banyak, tuhan kami adalah kekuasaan, dan bukan lagi Engkau yang bersemayam di nurani kami.

Dengarlah Tuhanku, betapa isu telah menjadi agama bagi kami. Isu-isu berseliwean, isu-isu berlalulalang di tengah kami, menjadi pelengkap hidup kami dari pagi sampai pagi. Padahal, sebagaimana galibnya isu, sudah tentu belum terbukti kebenarannya. Tapi seperti Engkau tahu, hari-hari kami cuma diisi oleh isu dan gosip serta kebohongan. Ya, ya. Isu adalah kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya.

Total Views: 390

Pos terkait