Karimun (Jurnal) – Anak-anak Suku Asli dari Teluk Setimbul, Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat turut memeriahkan pesta rakyat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 yang digelar Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Karimun di Coastal Area, Tanjung Balai Karimun, Minggu (18/8) sore.
Anak-anak Suku Asli yang biasa hidup di atas sampan di laut denga cekatan mengikuti perlombaan khas Hari Kemerdekaan, terutama lomba panjat pinang.
Tidak sampai setengah jam, seluruh hadiah yang tergantung di 17 pohon pinang ludes diturunkan para peserta lomba yang sebagiannya anak Suku Asli yang sehari-hari hidup jauh dari pusat kota Tanjung Balai Karimun.
Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Karimun Zamri usai pesta rakyat itu mengatakan, anak Suku Asli sengaja diundang agar bisa berpartisipasi dan merasakan meriahnya perayaan Hari Kemerdekaan.
“Anak-anak (Suku Asli) dari Teluk Setimbul setiap tahun kita undang mengikuti lomba permainan rakyat yang kita gelar setiap perayaan HUT RI,” kata dia.
Zamri mengharapkan fengan mengikuti lomba permainan rakyat ini, anak-anak Suku Asli juga memiliki semangat cinta Tanah Air dan semangat kebangsaan yang tinggi.
Pesta rakyat pada peringatan HUT RI tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu hanya ada 8 pohon pinang, maka tahun ini bertambah menjadi 17 pohon pinang, dan diisi juga dengan lomba bakiak, balap karung dan tarik tambang.
“Di tengah keterbatasan anggaran, alhamdulillah acara tahun ini cukup meriah berkat dukungan dari beberapa sponsor. Kita berharap tahun depan lebih meriah lagi,” katanya.
Pesta rakyat menyambut HUT RI ke-74 tersebut dibuka Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim dan dihadiri pula oleh Dandim 0317/Karimun Letkol Laut (P) Rizal.Analdie.
Ribuan warga menyaksikan pesta rakyat tersebu namun banyak berkomentar kurang puas karena tidaksampai setengah jam, kegiatan lomba sudah selesai dan hadiah yang tergantung di 17 pohon pinang sudah turun semua.
“Kurang puas nontonnya, baru datang lomba sudah usai. Dan ada juga yang datang tapi acaranya sudah selesai,” ujar seorang warga, Adi. (rdi)





