Karimun (Jurnal) – Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Yayasan Rehabilitasi Sosial Sado menyatakan, tingkat kesembuhan pecandu narkoba dengan status rawat jalan sangat kecil.
“Sangat minim, karena banyak faktor yang mempengaruhi, seperti faktor pergaulan, keluarga dan sebagainya. Walaupun pecandu narkoba yang dirawat jalan merupakan kesadaran sendiri,” kata penasihat IPWL Yayasan Rehabsos Sado, Linda Sado di Tanjung Balai Karimun, Selasa.
Linda mengatakan, Yayasan Rehabsos Sado banyak menerima pasien pecandu narkoba untuk mendapatkan perawatan, namun karena keterbatasan fasilitas, sebagian besar hanya mendapatkan rawat jalan.
“Seharusnya pecandu narkoba mendapatkan rawat inap agar memudahkan proses penyembuhan. Karena ini tidak hanya kecanduan, tetapi juga menyangkut mental,” kata dia.
Ketua IPWL Yayasan Rehabsos Sado, Roy Sado menambahkan, kapasitas untuk rawat inap pada yayasan yang dipimpinnya hanya bisa menampung 10 pecandu narkoba.
“IPWL Sado ada di dalam panti yang disebut Rawat Inap dan diluar panti yg disebut Rawat Jalan. Kapasitas rawat inap saat ini masih 10 orang,” kata Roy.
Sementara jumlah pasien rawat jalan mencapai 100 orang, namun persentase kesembuhannya sangat kecil.
Namun demikian, IPWL Sado juga mencoba memperluas pelayanan, salah satunya dengan membuka cabang pelayanan di KM 5 Atas Kota Tanjungpinang, Jl. Fisabililah No. 56i.
Dengan dibuka cabang di Tanjungpinang, dia berharap makin banyak pecandu narkoba yang direhabilitasi.
IPWL Yayasan Rehabsos Sado juga terus melakukan sosialisasi sosialisasi rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) melalui Instusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Kemensos RI, dan merupakan kegiatan promosi program-program yang ada di IPWL Yayasan Rumah Rehsos Sado.
Salah satunya dengan menggelar sosialisasi kepada para kader kesehatan, seperti kader posyandu dan PKK di Hotel Alishan Tanjung Balai Karimun pada pekan lalu, dengan harapan mereka ikut berperan memberikan informasi terkait pecandu narkoba agar bisa direhabilitasi.
Peserta kegiatan ini yang merupakan ibu-ibu kader kesehatan dan PKK baik di kelurahan maupun kecamatan dapat menjadi perpanjangan informasi IPWL kepada masyarakat.
Dan informasi ibu-ibu diharapkan menjangkau “grassroot” masyarakat yang terdampak dengan penyalahgunaan Napza ini, tidak takut melaporkan dirinya ke IPWL Sado, guna mendapatkan bantuan segera.
“Apabila setelah di asesment ternyata pecandu harus dibawa ke Balai/Panti Sosial Napza, maka IPWL Kemensos ini akan merujuk ke PSPP Galih Pakuan Bogor dan PSPP Insyaf Medan,” tutur Roy Sado.
Dalam kesempatan itu turut ditampilkan testimoni, Bro Rieki, salah satu pecandu yang telah mengikuti rehabilitasi sosial di IPWL Sado dan telah pulih.
Menurut Bro Rieki, pemulihan dilakukan dengan sangat berat, namun berkat Tuhan dan berkat dukungan keluarga serta adanya IPWL Sado, maka Bro Rieki dapat pulih seperti saat ini.
Bro Rieki bercerita mengenai dia yang dahulu sangat berbeda pola pikir dg yang sekarang, harapannya dapat memberikan inspirasi bagi semua pecandu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya agar berhenti mengkonsumsi Napza tersebut. (rdi)





