Karimun (Jurnal) – Komisi I menggelar inspeksi mendadak ke Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Widya di Sungai Raya, Kecamatan Meral menindaklanjuti laporan bahwa Stikes tersebut bermasalah karena kekurangan dosen.
Sidak yang dipimpin Ketua Komisi I HM Taufik tersebut menemukan bahwa kondisi Stikes tersebut memprihatinkan. Kemegahan gedung dengan empat lantai tersebut ternyata bertolak belakang dengan kegiatan perkuliahan mahasiswanya.
HM Taufik mengatakan, sidak tersebut, Selasa (13/1) dilakukan setelah pihaknya menerima laporang dari orang tua yang anaknya kuliah di Stikes tersebut.
“Pada intinya, kami mendukung pendidikan apalagi di Karimun sudah punya stikes, sehingga anak-anak kita tidak perlu lagi kuliah jauh-jauh keluar daerah. Hanya saja jang melanggar aturan main dan ini yang harus kita benahi. Termasuk administrasi, tenaga pendidik dan banyak lagi,” kata dia.
Anggota Komisi I Nyimas Novi Ujiani turut menyampaikan keluhan warga yang banyak ia terima terkait kondisi Stikes Widya di Karimun.
“Kebanyakan anak-anak kita kuliah disini, sehingga saya tahu apa saja yang terjadi dari laporan mereka. Bahkan mereka sudah mengancam bakal melaksanakan aksi demonstrasi tapi saya tahan. Biar saya cari informasi terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Jadi saya peringatkan kepada ibu (Koordinator Stikes Widya-red) tolong jangan sampai anak-anak kita disni dijdikan bahan eksperimen atau percobaan,” kata Novi.
Ia juga mempertanyakan kenapa banyaknya mahasiswa yang tidak betah kuliah di Stikes Widya, yang semula mencapai puluhan orang namun kini hanya tinggal belasan orang.
Persoalan lain, kata Novi, semakin pelik ketika para mahasiswa yang telah ujian tapi nilainya tidak keluar. Sedangkan manajemen mengaku harus melunasi segala macam biaya yang dibebankan kepada mahasiswa baru nilai keluar.
Namun setelah dilunasi nilai tak kunjung keluar. Belum lagi persoalan seragam mahasiswa yang diberikan hanya satu setel. Padahal sudah lunas pembayaran dan setiap hari yang dipakai hanya seragam putih-putih seperti perawat.
“Orang tua mereka berpenghasilan di bawah rata-rata, ada petani, nelayan dan banyak lagi. Namun semangat belajar mereka tetap ada sehingga masih ingin bertahan di STIKES ini, tapi jangan lah di olok-olok begini. Ini bukan main-main, dan saya minta siapa yang bertanggung jawab segera kasi jawaban kepada kami. Kami juga minta agar pihak yayasan datang ke Karimun untuk menemui kami guna menyelesaikan berbagai persoalan yang ada,” kata dia.
Tidak hanya itu, Novi juga menyesali sikap manageman STIKES yang tidak bersedia memberikan transkip nilai kepada mahasiswa yang pindah ke kampus lain. Sehingga waktu mereka kuliah terbuang sia-sia.
“Kalau begini kondisinya jangan-jangan nanti lulusan dari sini bidannya ada yang salah kerja. Ini anak-anak kita, jangan nanti dia jadi bidan yang kerjanya salah. Jadi kapan kami bisa bertemu dengan yang bertanggungjawab dalam hal ini pihak Yayasan yang berdomisili di Batam,” ujar Novi menegaskan.
Zaizulfikar yang juga anggota Komisi I menegaskan, pihak Stikes Widya menyerahkan semua data berkaitan dengan kampus, mulai dari jumlah dosen, mahasiswa, struktur kepengurusan, besaran biaya yang harus dibayar dan banyak lagi.
“Tapi tolong, jangan ada yang direkayasa. Kami sudah tahu kondisinya dengan sidak hari ini, jadi silahkan serahkan data apa adanya dengan kondisi yang ada. Siapa tau juga ada dana yang bisa kita anggarkan untuk perbaikan disini,” kata pria yang akrab disapa Boy ini.
Koordinator Stikes Widya, Mona menanggapi bahwa dirinya tidak tahu sama sekali mengenai kepengurusan dan hal tersebut hanya Yayasan yang mengetahui termasuk pendanaan.
“Mengenai transkip nilai itu pun di pusat, kami tidak tahu apa-apa. Posisi saya sebetulnya dosen yang ditunjuk merangkap koordinator Stikes. Kemudian memang anak-anak juga sempat demo lalu saya sampaikan, kalau demo disini tidak akan dapat penjelasan, karena pimpinan adanya di Batam, saya hanya ditugaskan. Kalau masalah disini saya tidak banyak tahu tapi saya paham kondisinya. Saya baru empat bulan diberikan tanggung jawab untuk menangani Stikes dalam hal ini sebagai koordinator, tapi sifatnya hanya pengawas saja,” kata wanita yang juga merangkap sebagai Kepala SMK Widya ini.
Dijelaskan Mona, untuk SMK semua persoalan sudah selesai termasuk izin dan itu semua dia yang mengurusinya. Sehingga ia pun bertanya-tanya apa saja kerjaan Kepala SMK sebelumnya yang menjabat lebih kurang setahun lamanya namun tidak kunjung mengurus izin sekolah.
“Untuk bertemu dengan pimpinan nanti akan saya sampaikan. Kemudian mengenai data yang diminta akan saya siapkan dan dalam tempo dua hari sudah akan saya serahkan kepada Komisi I,” katanya.
Adapun jumlah mahasiswa saati ini 15 sampai 20 orang dengan beberapa jurusan yang dibimbing lima dosen saja. Sedangkan siswa SMK Widya berjumlah 190 orang dengan jumlah guru yang terbatas pula yakni 11 orang. (rus/haluankepri.com)





