Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan Cegah DBD

Karimun (Jurnal)) – Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah demam berdarah dengue (DBD) menyusul meninggalnya seorang bayi bernama Krisna Prana akibat serangan wabah tersebut pada Kamis (22/1).

“Saya dapat laporan waktu rapat tadi, bahwa ada pasien meninggal akibat DBD. Saya minta seluruh jajaran untuk meningkatkan kewaspadaan meski status Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap DBD sudah dicabut akhir Desember 2014,” kata Kepala Dinas Kesehatan Karimun Sensissiana di Tanjung Balai Karimun, Jumat.

Sensissiana mengatakan, pelayanan terhadap pasien serta penanganan terhadap wabah tersebut tetap sama meski status KLB sudah dicabut. Perawatan terhadap pasien DBD di seluruh instalasi pelayanan kesehatan tidak dipungut biaya. Warga juga bisa meminta serbuk abate di puskesmas-puskesmas juga tidak dikenakan biaya.

“Kalau untuk ‘fogging’ (pengasapan) dilakukan kalau ada temuan kasus, tidak bisa sembarangan karena dapat meningkatkan kekebalan pada nyamuk,” kata dia.

Hanya saja, ucap dia, pencegahan wabah DBD tidak bisa hanya dilakukan petugas tanpa disertai peran aktif warga masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk serta menggiatkan gerakan 3M, mengubur, menguras dan menutup wadah-wadah yang dapat menampung air hujan.

“Masalah lingkungan menjadi faktor paling menentukan, masyarakat harus berperan menjaga kebersihan lingkungannya. Jangan biarkan wadah tergenang air dalam waktu lama, atau tabur bubuk abate,” ucapnya.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Karimun Rachmadi mengatakan, selama Januari 2015 jumlah pasien terserang DBD sebanyak 21 kasus, dengan rincian di Kecamatan Karimun 8 kasus, Meral 5 kasus, Meral Barat 1 kasus, Tebing 5 kasus, Moro 1 kasus dan Kecamatan Kundur 1 kasus.

Rachmadi menuturkan, kasus DBD terakhir menyerang Krisna Prana, warga Sungai Pasir, Kecamatan Meral yang meninggal dunia setelah mendapat perawatan di RSUD Karimun pada Kamis (22/1).

Krisna Prana yang baru berusia 8 bulan, menurut dia, meninggal dunia karena kondisinya sudah memburuk. “Korban atas nama Krisna Prana masuk rumah sakit pada Jumat (16/1), namun pihak keluarga meminta rawat jalan saja. Dan pada Minggu (18/1), korban kembali masuk rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia pada Kamis (22/1) sore,” tuturnya.

Ia juga mengimbau warga masyarakat agar waspada, tidak membiarkan diri maupun anggota keluarganya mengalami demam panas tinggi mirip gejala DBD lebih dari dua hari.

“Segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat diberikan penanganan medis secepatnya,” ucapnya.

Ia menambahkan, Karimun merupakan daerah endemis DBD yang setiap tahun selalu ada warga yang terserang wabah tersebut. (rus)

Total Views: 220

Pos terkait