Permasalahan penting yang masih dihadapi dalam pembangunan kesehatan saat ini adalah terbatasnya aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas terutama pada kelompok penduduk miskin.
Kelompok miskin pada umumnya mempunyai status kesehatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan status kesehatan rata-rata penduduk.
Terbatasnya aksesibilitas penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas ini antara lain disebabkan oleh karena kendala jarak, biaya dan kondisi fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan jaringannya yang belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat.
Seperti yang terjadi di Kepulauan Meranti Riau. Minimnya layanan dan fasilitas kesehatan ditambah lagi terisolirnya masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT).
Nerelang, Desa Sungai Tohor Barat ini, pelayanan kesehatan menjadi keluhan sehari-hari masyarakatnya. Terutama sekali apabila ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis yang lebih intensif dan segera dibawa ke rumah sakit di Selatpanjang sebagai ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti, satu-satunya memiliki Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), mereka harus terlebih dahulu mencari kendaraan laut yang bisa mengangkut warga yang sakit.
No, salah seorang penduduk Nerelang mengatakan, selama ini warga desa tempat ia tinggal, pertolongan pertama untuk mengobati yang sakit mereka hanya menggunakan pengobatan tradisional serta mendatangkan orang pintar (Dukun) di perkampungan tersebut.
“Kami sering kesulitan mengantarkan masyarakat yang sakit ke rumah sakit di Selatpanjang. Kami membutuhkan sekali kendaraan darat maupun laut seperti ambulans apung,” kata No.
Ditambahkan No “Dalam keadaan darurat ini kami terpaksa menungu kapal dari Sungai Tohor. Inilah yang menjadi keluhan masyarakat Nerelang dan berharap kami bisa memiliki ambulance apung sendiri,” imbuh No.
No menyebutkan, sebelumnnya ada kendaraan yang difungsikan untuk membawa warga yang sakit ke Selatpanjang. Namun saat ini kondisinya sudah sangat rusak. Kendaraan tersebut juga merupakan hasil swadaya masyarakat.
“Kapalnya sudah dalam kondisi rusak berat, terutama mesin domping penggerak kapal tersebut. Kalau pun diperbaiki akan memakan biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu kami sangat berharap ada bantuan dari pemerintah maupun swasta yang mau memberikan kami mesin dongfeng 24 pk, itu sudah dari cukup. Sedangkan untuk rumah kapalnya kami bisa siapkan secara swadaya,” sebutnya. (Isk)





