Presiden Joko Widodo bergegas meyakinkan para investor dan birokrat tentang masa depan Ibu Kota Nusantara (IKN) menyusul pengunduran diri kepala dan wakil kepala otorita ibu kota baru tersebut yang memicu keraguan.
Proyek pembangunan IKN diperkirakan mencapai $32 miliar atau sekitar Rp520 triliun.
Pengumuman Jokowi bahwa ia akan mulai bekerja bulan depan dari sebuah kantor di IKN, lebih dari 1.200 km dari Jakarta, tidak menghilangkan kekhawatiran mengenai proyek warisannya itu, kata para analis.
“Kepercayaan investor menurut saya sudah anjlok. Mereka sudah ragu dan wait and see, antara lain karena status tanah yang tidak jelas, dan juga karena tidak transparannya tata kelola ibu kota baru itu,” kata Yanuar Nugroho, mantan Wakil Kepala Staf Presiden.
“Pengunduran diri ini memperburuk keadaan… alih-alih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pemerintah justru berusaha menutupinya,” katanya, menggambarkan Jokowi sedang dalam upaya meredam kerusakan lebih jauh.
Bepergian ke IKN hanya sehari setelah dua teknokrat itu mengundurkan diri tanpa penjelasan, Presiden meresmikan sekolah-sekolah, kompleks perkantoran dan menjanjikan investasi asing akan datang.
Namun bertahun-tahun setelah Presiden mengumumkan proyek unggulannya itu, yang dimaksudkan untuk meringankan beban Jakarta yang padat lalu lintas, tercemar, tenggelam dan padat penduduknya, belum ada pendanaan asing yang masuk.
Juru bicara kepresidenan merujuk pertanyaan mengenai keraguan akan masa depan IKN pada komentar Presiden Jokowi sebelumnya yang mengatakan bahwa proyek tersebut akan terus berjalan sesuai rencana.
Jokowi akan menyelesaikan jabatannya pada Oktober ini setelah menjalani masa jabatan maksimal dua periode sementara proyek warisannya itu menghadapi sejumlah masalah, termasuk masalah lahan, pasokan air, ancaman penyakit tropis seperti malaria, dan keengganan yang meluas di kalangan pegawai negeri untuk pindah.









