TEHERAN – Pascaserangan ratusan rudal dan drone Iran ke wilayah Israel, berbagai pihak meminta agar Israel menahan diri untuk tidak meningkatkan ketegangan di kawasan.
Israel yang kini tengah mempertimbangkan respons terhadap serangan tersebut mendapat peringatan keras dari Iran bahwa mereka siap melakukan serangan balasan kembali hanya dalam hitungan detik.
Komandan militer Israel, Letjend Herzi Halevi mengatakan pasukannya dalam kondisi “siaga tertinggi” dan sedang dalam proses “menilai situasi lebih dekat” terkait respons yang akan diberikan atas serangan tersebut.
“Iran akan mendapat konsekuensi atas tindakannya. Kami akan memilih respons yang sesuai. IDF tetap siap untuk membalas ancaman apa pun dari Iran dan proksi terornya, sementara kami melanjutkan misi kami untuk mempertahankan negara Israel,” ujar Halevi dalam sebuah keterangan video, Senin (15/4/2024).
Serangan Iran yang dilancarkan pada Sabtu (13/4/2024) merupakan serangan balasan setelah Israel diduga menyerang gedung konsuler Iran dua pekan sebelumnya di ibu kota Suriah, Damaskus, yang menewaskan dua jenderal Iran.
Serangan itu menandakan untuk yang pertama kalinya Iran melakukan serangan militer langsung ke Israel, meski sudah ada permusuhan selama beberapa dekade sejak Revolusi Islam pada 1979 di negara itu.
Deputi Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani pada Senin (15/4/2024) menyatakan dalam sebuah tayangan televisi nasional Iran bahwa Israel akan menghadapi “respons yang tegas dan keras jika rezim Zionis itu membuat langkah jahat sekecil apapun.”
“Seperti yang saya katakan, tidak akan ada lagi jeda 12 atau 13 hari antara langkah rezim Zionis dan respons kuat dari Iran. Para Zionis itu sekarang harus memperhitungkannya dalam hitungan detik, bukan jam,” tegas Kani.
Situasi ini lantas menimbulkan kekhawatiran akan ketegangan yang semakin meluas ke kawasan – tidak hanya antar kedua negara.






