Menkeu Sebut APBN Surplus Rp22,8 triliun per 15 Maret 2024

Menkeu Sri Mulyani Indrawati (tengah) dan Wamenkeu Suahasil Nazara beserta Pejabat Eselon I Kemenkeu dalam konferensi pers APBN Kita di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Senin (25/3) ( VOA/Ghita Intan)
Menkeu Sri Mulyani Indrawati (tengah) dan Wamenkeu Suahasil Nazara beserta Pejabat Eselon I Kemenkeu dalam konferensi pers APBN Kita di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Senin (25/3) ( VOA/Ghita Intan)

Sentimen Eksternal

Dalam kesempatan ini mantan Managing Director World Bank ini menekankan sentimen global masih akan berpengaruh cukup signifikan terhadap kesehatan APBN dan perekonomian tanah air. Menkeu Sri memaparkan beberapa faktor eksternal tersebut di antaranya kondisi perekonomian dari berbagai negara maju seperti Amerika Serikat yang perekonomiannya relatif mulai resilien meskipun ada peningkatan tingkat suku bunga yang cukup tinggi dalam jangka waktu yang cepat.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya adalah pelemahan ekonomi dari Republik Rakyat China (RRT) serta kondisi geo politik dalam hal ini perang yang tidak kunjung usai.

“Kita melihat bahwa geopolitik ini, akan menjadi faktor yang masih sangat dominan, karena geopolitik termasuk perang, itu biasanya terjadi begitu saja, tidak ada peringatan dan dampaknya langsung kepada perekonomian dunia. Ini yang perlu kita waspadai,” jelasnya.

Menkeu Sri menekankan, APBN masih dilihat sebagai instrumen yang bisa diandalkan untuk menjaga perekonomian dan untuk menjalankan program-program prioritas nasional pemerintah. Dengan begitu, katanya, pihaknya akan terus mewaspadai berbagai risiko dari global yang dapat membayangi kondisi perekonomian nasional dan pelaksanaan APBN.

“Beberapa hal seperti geopolitik, kebijakan suku bunga, kinerja ekonomi negara-negara maju, isu perubahan iklim, digital technology, aging population, itu semuanya akan menjadi faktor yang harus kita terus amati dan kita harus jaga, agar pengaruhnya kepada ekonomi kita bisa kita mitigasi,” tegasnya.

Total Views: 705

Pos terkait