Beras Mahal, Pemerintah Diminta Serius Melakukan Diversifikasi Pangan

Seorang pelanggan mengecek kualitas beras saat berbelanja di pasar beras Cipinang di Jakarta, 22 Januari 2016. (Foto: Reuters/Garry Lotulung)
Seorang pelanggan mengecek kualitas beras saat berbelanja di pasar beras Cipinang di Jakarta, 22 Januari 2016. (Foto: Reuters/Garry Lotulung)

JAKARTA – Sejumlah pakar berpendapat pemerintah harus serius dalam melakukan diversifikasi pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas beras.

Diversifikasi pangan kembali digaungkan oleh berbagai pihak, ketika harga beras melambung tinggi pada akhir-akhir ini. Sejumlah pejabat daerah bahkan kerap meminta masyarakat untuk mengkonsumsi komoditas pangan selain beras, seperti singkong.

Bacaan Lainnya

Pengamat pangan Khudori mengatakan sebenarnya pemerintah sudah mulai melakukan program diversifikasi pangan sejak 1960-an. Namun, katanya, program ini cenderung tidak serius dan salah kaprah, sehingga yang terjadi adalah program tersebut gagal, dan Indonesia memiliki ketergantungan tinggi pada komoditas beras.

Ia mencontohkan praktik diversifikasi pangan yang mengandalkan terigu.

“Aneka pangan berbasis terigu, berbasis gandum, yang itu impor. Itu yang saya sebut salah kaprah. Idealnya diversifikasi itu terjadi pada pangan yang berbasis produksi lokal, produksi kita sendiri, bukan berbasis pada impor,” ungkap Khudori ketika berbincang dengan VOA.

Lebih jauh, Khudori memaparkan sebenarnya banyak komoditas pangan yang bisa menjadi kandidat untuk menggantikan beras. Namun, ia menekankan komoditas tersebut seharusnya memiliki sifat yang menyamai beras sehingga mudah diterima.

Menurutnya, beras merupakan komoditas pangan yang mudah didapatkan di mana saja, harganya terjangkau, dan mudah disajikan.

“Terus juga gampang dikomplementarikan atau digabungkan dengan pangan-pangan lain. Apakah pangan yang lain, pangan substitusi, begitu? Enggak juga. Jadi kalau ingin mengganti, ingin mensubstitusi, sifat-sifat yang tadi itu harus dimiliki oleh komoditas pengganti itu. Bahkan kalau bisa dari sisi kisi-kisi yang lebih bagus. Jadi warga akan dengan sendirinya beralih karena ada pilihan. Sekarang ini kan nggak ada pilihan. Pilihannya apa? Terigu saja,” jelasnya.

Agar diversifikasi pangan bisa berjalan baik, Khudori menyarankan pemerintah untuk melakukan riset terlebih dahulu terhadap satu hingga tiga komoditas pangan yang berpotensi tinggi bisa menggantikan beras. Dengan berbagai sentuhan teknologi dan ahli gizi, ia yakin, potensi komoditas pangan berbasis lokal sebenarnya bisa dioptimalkan untuk menggantikan beras.

Pos terkait