Dukung Ukraina, Sekjen NATO Minta Eropa Tingkatkan Produksi Senjata

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menghadiri konferensi pers selama pertemuan para menteri luar negeri NATO di markas besar Aliansi di Brussels, Belgia, 29 November 2023. (Foto: REUTERS/Johanna Geron)
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menghadiri konferensi pers selama pertemuan para menteri luar negeri NATO di markas besar Aliansi di Brussels, Belgia, 29 November 2023. (Foto: REUTERS/Johanna Geron)

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO Jens Stoltenberg meminta Eropa menggenjot produksi senjatanya untuk mendukung Ukraina dan mencegah “potensi konfrontasi selama beberapa dekade” dengan Moskow. Hal tersebut terungkap dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh media Jerman pada Sabtu (10/2/2024).

Menjelang pertemuan penting para menteri pertahanan NATO di Brussels dan peringatan kedua perang Rusia-Ukraina, Stoltenberg menegaskan bahwa “kita perlu menyusun kembali dan memperluas basis industri kita lebih cepat, untuk meningkatkan pengiriman ke Ukraina dan mengisi ulang stok kita sendiri.”

Bacaan Lainnya

“Ini berarti beralih dari masa damai yang lambat ke produksi konflik dengan tempo tinggi,” katanya kepada harian Jerman Welt am Sonntag.

Komentar Stoltenberg muncul di tengah meningkatnya permintaan bantuan senjata, amunisi dan bantuan militer lainnya dari Ukraina saat negara itu memerangi pasukan Rusia selama hampir tiga tahun.

Para pemimpin Barat juga menyerukan bantuan yang lebih besar. Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Joe Biden mendesak anggota parlemen AS pada Jumat untuk menyetujui paket bantuan militer untuk Ukraina, yang telah lama tertunda. Ia memperingatkan bahwa Kyiv tidak dapat menunda invasi Rusia tanpa bantuan tersebut.

“Kegagalan Kongres Amerika Serikat dalam tidak mendukung Ukraina hampir merupakan kelalaian kriminal,” kata Biden saat ia menerima Scholz di Ruang Oval pada Jumat.

Stoltenberg mengatakan: “Tidak ada ancaman militer terhadap sekutu mana pun. Pada saat yang sama, kami mendengar ancaman rutin dari Kremlin terhadap negara-negara NATO.”

Pos terkait