Jokowi Restui Gibran Jadi Cawapres Prabowo

Gibran Rakabuming menghadiri acara Indonesia Memanggil Gibran pada Sabtu (21/10) di Tugu Proklamasi, Jakarta. (Foto: VOA/Indra Yoga)
Gibran Rakabuming menghadiri acara Indonesia Memanggil Gibran pada Sabtu (21/10) di Tugu Proklamasi, Jakarta. (Foto: VOA/Indra Yoga)

“Apakah semudah itu kita mensimpilkasikan bahwa betulkah pemilih muda akan memilih yang muda? Kalau pemilih rasional dia tetap akan memilih dari sisi kompetensi, jam terbang, prestasi, kinerjanya,” jelasnya.

Lebih jauh, Pangi menuturkan jika Prabowo benar-benar memilih Gibran sebagai cawapresnya, maka penyelenggaraan pemilu yang adil, jujur dipertanyakan. Pasalnya, Jokowi sebagai presiden sekaligus ayah dari Gibran memunculkan kemungkinan adanya abuse of power dan konflik kepentingan.

Bacaan Lainnya

“Saya bukan persoalan anak muda, sebenarnya kita mendorong anak muda maju, ok tidak ada masalah. Tapi yang kita kritik adalah bukan pada dinasti politik, tapi abuse of power, pemilu yang tidak datar. Penyelenggara pemilunya partisan, Bawaslu partisan, penegak hukumnya partisan, fitur demokrasinya partisan,” jelasnya.

“Aparat, penengak hukum, penyelenggara pemilu itu semuanya masih dalam kendali presiden. Pertanyaannya adalah memang bisa Jokowi tidak sayang anak? Orang tua mana yang tidak sayang sama anaknya? Potensi itu yang kemudian dibilang ya pokoknya harus menang. Itu yang repot. Itu yang kita khawatirkan, bahwa pemilu kita nanti tidak fair, tidak adil,” tambahnya.

Ia pun menyayangkan sikap koalisi partai politik yang mendukung majunya Gibran sebagai cawapres ketika ayahnya masih menjabat sebagai presiden. Menurutnya, para parpol tersebut serta merta hanya mengamankan posisinya sehingga tidak memiliki banyak pilihan.

“Seperti sudah bertekuk lutut tanpa bisa ngapa-ngapain. Kasihan kader partai yang dibangun, katanya ada kaderisasi, partai itu berjenjang, tidak bisa instan, harus proses kaderisasi yang matang. Saya pastikan ideologi partai hampir berada di titik nadir yang paling rendah. Gampang orang datang dan pergi, pindah-pindah partai. Seperti tidak punya loyalitas, tidak punya harga diri,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 278

Pos terkait