Kepala Siber Ukraina Beberkan Peretas Rusia Cari Bukti Kejahatan Perang

Mata-mata Rusia menggunakan peretas untuk menargetkan sistem komputer di lembaga penegak hukum di Ukraina dalam upaya mengidentifikasi dan memperoleh bukti terkait dugaan kejahatan perang Rusia. (Foto: Reuters)
Mata-mata Rusia menggunakan peretas untuk menargetkan sistem komputer di lembaga penegak hukum di Ukraina dalam upaya mengidentifikasi dan memperoleh bukti terkait dugaan kejahatan perang Rusia. (Foto: Reuters)

Mata-mata Rusia menggunakan peretas untuk menargetkan sistem komputer di lembaga penegak hukum di Ukraina dalam upaya mengidentifikasi dan memperoleh bukti terkait dugaan kejahatan perang Rusia, demikian dikatakan kepala perlindungan siber Ukraina kepada Reuters pada Jumat (22/9/2023).

Para peretas menarget kantor dan departemen Kejaksaan Agung Ukraina yang mendokumentasikan kejahatan perang. Para peretas tersebut diketahui bekerja di badan intelijen luar negeri, dalam negeri, dan militer Rusia, kata Yurii Shchyhol, kepala Layanan Komunikasi Khusus dan Perlindungan Informasi Khusus Ukraina (State Service of Special Communications and Information Protection of Ukraina/ SSSCIP). Lembaga itu menangani pertahanan siber di negara yang dilanda perang.

Bacaan Lainnya

“Ada perubahan arah, dari fokus pada fasilitas energi menjadi pada institusi penegakan hukum yang sebelumnya tidak sering menjadi sasaran,” kata Shchyhol.

“Pergeseran ini, ke arah pengadilan, jaksa dan unit penegakan hukum, menunjukkan bahwa peretas mengumpulkan bukti tentang kejahatan perang Rusia di Ukraina” dengan tujuan untuk menindaklanjuti penyelidikan Ukraina, tambahnya.

Kegiatan spionase itu akan dipaparkan dalam laporan SSSCIP mendatang, yang akan diterbitkan pada Senin (25/9/2023).

Laporan tersebut, yang salinannya telah ditinjau Reuters, mengatakan bahwa para peretas juga berusaha mengumpulkan informasi intelijen tentang warga negara Rusia yang ditangkap di Ukraina. Tujuannya untuk “membantu orang-orang ini menghindari penuntutan dan memindahkan mereka kembali ke Rusia.”

“Kelompok yang kami identifikasi terlibat dalam kegiatan ini adalah bagian dari badan intelijen GRU dan FSB Rusia,” kata Shchyhol.

Kementerian Luar Negeri Rusia dan Dinas Keamanan Federal (FSB) tidak segera menanggapi permintaan komentar tertulis dari Reuters. Badan intelijen militer GRU Rusia tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Shchyhol menolak untuk mengidentifikasi secara pasti unit mana yang menjadi sasaran peretasan tersebut, dengan alasan masalah keamanan. Jumlah insiden keamanan siber yang didokumentasikan oleh SSSCIP tumbuh sebesar 123 pesen dalam enam bulan pertama pada tahun ini dibandingkan dengan paruh kedua 2022, tambahnya.

Total Views: 416

Pos terkait