Menkes: 400.000 Penderita TBC Tidak Terdeteksi dan Rentan Menularkan

Dokumen - Seorang dokter (kiri) menghibur pasien tuberkulosis di poliklinik Persatuan Melawan Tuberkulosis di Jakarta, 4 April 2011. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Dokumen - Seorang dokter (kiri) menghibur pasien tuberkulosis di poliklinik Persatuan Melawan Tuberkulosis di Jakarta, 4 April 2011. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Tantangan Eliminasi TBC di Indonesia

Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, Indonesia memang memiliki berbagai tantangan yang cukup berat dalam mengeliminasi penyakit TBC. Pertama katanya terkait diagnosi dan terapi.

“Karena Indonesia terdiri dari banyak pulau dan masyarakatnya beragam suku, ras dan agama, maka pemerintah seringkali kesulitan mengontrol dan memberantas penyakit tersebut,” katanya.

Bacaan Lainnya

“Akses terbatas pada layanan kesehatan yang berkualitas, khususnya di daerah terpencil, kepulauan, lalu tingkat kemiskinan yang tinggi dikombinasikan dengan kurangnya jumlah peralatan kesehatan, termasuk tenaga kesehatan yang professional yang bisa menangani cepat. Kombinasi semua itu menyebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi TBC,” ungkap Dicky.

Tantangan selanjutnya adalah resistensi obat. Menurut Dicky, mengatasi tantangan yang satu ini cukup sulit karena dibutuhkan kepatuhan, literasi yang baik, dan pemantauan dalam terapi pengobatan penyakit TBC tersebut.

“Apalagi ini anggaran pemerintah terbatas.. Ini akhirnya obat yang tidak mendapat perhatian, program yang tidak mendapat perhatian akhirnya ya kurang pengadaan, ini akhirnya menyebabkan resistensi,” katanya.

Meskipun penyakit TBC sudah berpuluh-puluh tahun eksis, namun stigma buruk penyakit ini, banyak masyarakat enggan untuk memeriksakan diri atau kesadaran untuk memeriksakan dirinya sangat rendah.

Meski begitu, Dicky optimistis bahwa dengan bantuan teknologi maju, pemerintah dapat memberantas penyakit tersebut.

“Di sisi lain ada peluang sebetulnya dengan teknologi yang lebih advanced. Saat ini ada rapid molecular test yang bisa secara signifikan mengurangi waktu untuk mendiagnosis TBC dan juga drugs resistant TBC. Jadi artinya teknologi bisa dan harus dimanfaatkan. Digital health technology juga bisa dimanfaatkan untuk men-tracking pasien seperti halnya COVID-19,” tambahnya.

Dicky merekomendasikan kepada pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. (voa)

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 594

Pos terkait