Tantangan Hilirisasi Industri
Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal mengatakan ada beberapa tantangan yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam ketika ingin menggenjot hilirisasi industri.
Pertama, kata Faisal, adalah melakukan riset dan penelitian terlebih dahulu terkait komoditas apa yang akan dilakukan hilirisasi. Menurutnya, harus ditelusuri lebih lanjut dari sisi demand dan supply. ia menjelaskan, jangan sampai komoditas yang akan diolah bahan mentahnya di dalam negeri ini justru pemintaannya tidak tinggi.
“Misalnya kendaraan listrik yang salah satu bahan bakunya adalah nikel. Kendaraan listrik memang tren potensi permintaanya besar. Itu sebabnya hilirisasi di nikel itu memberi insentif lebih besar bagi investor karena di sisi hilirnya permintaan besar, yang artinya potensi keuntungan itu juga besar. Di Indonesianya juga ada bahan bakunya. Tapi apakah komoditas yang lain dengan produk jadi akhir yang lain sama? Ini perlu dilihat satu per satu, harus ada riset, karena bisa jadi berbeda satu sama lain,” ungkap Faisal.
Kedua, katanya, adalah memperhitungkan daya saing di pasar itu sendiri. Pemerintah, katanya, perlu melihat siapa saja pesaing utama dalam industri tersebut. Dengan begitu katanya, produk turunannya kelak akan mampu berkompetisi atau bahkan lebih unggul dibandingkan dengan produk-produk dari para negara pesaing tersebut.
Ketiga, katanya, memastikan adanya keterkaitan atau linkage yang baik mulai dari hulu sampai ke hilir. Apabila hal itu tidak terjadi, sebanyak apapun cadangan komoditas yang ada, maka hilirisasi tidak akan berjalan dengan mulus.
“Keempat, bagaimana peta jalannya, terutama untuk komoditas tambang karena bahan tambang adalah bahan yang non-renewable, akan habis. Jadi masalah time frame menjadi sangat penting. Sampai kapan dia ada? Karena keinginan investor untuk menanamkan modal misalkan di smelter atau di pabrik yang lebih hilir ini bergantung pada seberapa banyak bahan baku? Sampai kapan habisnya? Ini hitungan bisnisnya pasti jalan,” katanya.
Terlepas dari itu semua, Faisal menekankan industrialisasi bisa membawa Indonesia kelak menjadi negara maju, dan hilirisasi merupakan bagian dari industrialisasi tersebut.
“Yang kita butuhkan adalah sekarang re-industrialisasi atau revitalisasi industri supaya pertumbuhannya lebih cepat seperti negara di Asia Timur yang bisa mendorong pertumbuhan industrinya di atas 10 persen. Kita sekarang pertumbuhan industri manufakturnya paling empat persen relatif rendah dibandingkan dengan potensinya. Kalau kita ingin melompat menjadi negara maju dia harus di atas 10 persen, apalagi kalau China, Korea itu sampai 30-an persen pertumbuhan industri manufakturnya,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam




