“Semua staf kami telah berada di sini selama tiga hari berturut-turut dan mereka kewalahan,” kata Dr. Aditya Singh, seorang petugas medis darurat.
Bangsal-bangsal di rumah sakit itu tidak memiliki AC yang berfungsi, dan unit pendingin yang dipasang tidak berfungsi dengan baik karena fluktuasi daya. Para petugas terlihat mengipasi pasien dengan buku dan menyeka keringat mereka untuk menjaga mereka tetap dingin.
Para pejabat di rumah sakit tersebut mengatakan kasus yang lebih parah sekarang dipindahkan ke rumah sakit di kota-kota besar terdekat seperti Varanasi dan lebih banyak dokter dan sumber daya medis dikirim ke rumah sakit itu untuk menangani krisis yang disebabkan oleh panas.
Di luar, warga Ballia mengatakan kepada AP bahwa mereka takut keluar rumah setelah tengah hari.
“Begitu banyak orang sekarat karena panas sehingga kami tidak punya waktu semenit pun untuk beristirahat. Pada hari Minggu, saya membawa 26 mayat,” kata Jitendra Kumar Yadav, seorang pengemudi mobil jenazah di kota Deoria, 110 kilometer dari Ballia, kepada AP.
Para pakar iklim mengatakan bahwa gelombang panas akan terus berlanjut dan India perlu mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi konsekuensinya. Sebuah studi oleh World Weather Attribution, sebuah kelompok akademik yang meneliti sumber panas ekstrem, menemukan bahwa gelombang panas yang membakar pada bulan April yang melanda sebagian Asia Selatan setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






