Melihat besarnya azas manfaat dan antusias warga Natuna yang menggunakan rumah singgah ini, dirinya berharap, pemerintah daerah tidak hanya bisa mempertahankan program rumah singgah ini, tetapi juga bisa menguppgrade, tambahan dengan bangunan yang memiliki fasilitas kamar lebih banyak lagi.
Saat menjalani perjalanan dinas, ia mengatakan pernah mengunjungi rumah singgah Natuna di Batam. Selain silahturahmi, ia juga kerap memberikan spirit kepada pasien dan keluarga pendamping, untuk tetap semangat menuju kesembuhan dalam masa berobatnya.
Menurutnya, banyak masyarakat Natuna yang takut untuk menjalani rujukan berobat di luar Natuna, dihantui besarnya kebutuhan biaya, apalagi kalau keluarga pasien tidak memiliki saudara sebagai tempat singgah, bisa dipastikan terjadinya pembengkakan yang lebiih besar diluar biaya pengobatan, ditambah kemampuan ekonomi masyarakat Natuna yang berbeda-beda.
Hal ini dibuktikan, masih adanya warga Natuna yang pasrah dengan masalah penyakit serius yang dideritanya, belum lama ini, warga asal Pulau Tiga Kabupaten Natuna, meninggal dunia di Batam, akibat terlambat merujuk berobat penyakit tumor ganas stadium akhir dibagian kepala, dimana warga tersebut terbentur biaya pengobatan. (Ron/rls)
Editor : Rusdianto






