Perbaikan dengan alih teknologi ini, yang dulu tanaman tinggi rentan roboh, sekarang sudah lebih rendah. Yang tadinya panen 6 bulan sekarang 115 hari sudah bisa di panen. Jadi potensial panen 3 kali setahun. Kemarin sempat ditayangkan di Batan dan akan dikembangkan terus,” jelasnya.

Sedangkan, Sekretaris Distanak, Tohirin menambahkan, dari hasil ubinan Dayang Muratan 1 ukuran 2,5 x 2,5 meter mendapatkan 5 kg GKP, jika dikonversi menjadi 8 ton/hektar GKP atau 6,64 ton/hektar GKB.
Untuk rata-rata anakan/pot 20 batang/rumpun, rata-rata per malai/rumpun 20 malai, rata-rata bulir/malai 355 bulir/malai, yang bernas 304 sedangkan hampa 51 atau 14,3 persen. Kemudian berat per 1.000 butir 21 gram dan kadar air panen 22 persen.
Sedangkan untuk Dayang Murataran 4 berat ubinan 4,5 kg jika dikoversi menjadi 7,2 ton GKP/hektar atau 5,98 ton GKB/hektar. Rata rata anakan/pot 20 batang/rumpun, rata-rata malai/rumpun 20, rata-rata bulir/malai 355 bulir/malai, bernas 307 bulir, hampa 48 atau 13,5 persen. Kemudian untuk berat per 1.000 butir 17 gram dengan kadar air panen 23 persen. (Abk)





