Meranti (Jurnal) – Tanggul yang terletak di Desa Kedaburapat yang menjadi penghubung perbatasan Dusun Parit Kasan dengan Parit Amat mengalami kerusakan. Jebolnya tanggul tersebut disebabkan oleh gelombang pasang pada akhir tahun 2017 hingga awal Januari kemaren.
Kuatnya gelombang pasang air laut tersebut membuat tanggul penghubung dua desa tidak bisa menahan air, sehingga menyebabkan kerusakan. Luapan air asin yang membawa lumpur masuk ke areal persawahan dan halaman rumah warga di Dusun Sejunjung desa pemekaran Bina Sempian. Bahkan banjir air masin setinggi 35 cm sempat menggenangi jalan lintas desa Bina Sempian menuju Desa Melai Kecamatan Rangsang Pesisir.
Zahari (40 th) warga Dusun Sejunjung mengatakan para petani sempat cemas dan membuat mereka khawatir karena ditakutkan akan gagal panen.
“Sekitar 10 hektar sawah yang baru siap ditanami terendam air asin. Lumpur asin yang ditinggalkan akan menyebabkan tanaman padi mati. Bayangan gagal panen jelas menghantui petani,” ungkap Zahari.
Sementara itu warga lainnya bernama H Saeran mengatakan, Pembangunan tanggul yang dibiayai APBD Propinsi Riau 2017 dengan anggaran milyaran rupiah, diharapkan mampu membendung masuknya air masin ke persawahan dan perkebunan kopi serta kelapa milik masyarakat. Namun, tidak sempurnanya proyek pembangunan tanggul tersebut menyebabkan banjir air masin tak terbendung.
“Kita sudah berupaya meminta pihak rekanan kontraktor melalui penghubung yang di lapangan untuk menutup titik lokasi bangunan tanggul yang jebol tersebut. Namun pihak kontraktor tidak mau. Akibatnya, saat pasang besar akhir tahun tak terbendung dan masuk ke persawahan di Dusun Sejunjung. Sekitar 10 hektar lebih sawah yang baru siap ditanami padi terendam air masin,” ungkapnya.
Ia menambahkan masyarakat dan Pemerintah Desa Bina Sempian sangat menyesalkan sikap rekanan yang terkesan lepas tangan, pihak rekanan keberatan menggerakkan alat beratnya ke lokasi terkait besarnya biaya operasional, masyarakat bisa memaklumi. Namun harusnya ada itikad rasa tanggung jawab mencari alternatif penyelesaian masalah dengan membangun kerja sama dengan masyarakat, bukan lepas tanggung jawab.
“Akhirnya masyarakat menutup titik lokasi tanggul yang jebol tersebut secara manual dengan gotong royong. Padahal ini masih dalam masa pemeliharaan tanggung jawab pihak kontraktor” jelas Ketua LPMD Desa Bina Sempian tersebut.
Pjs Kepala Desa Bina Sempian Pranoto saat dikonfirmasi Media ini kemaren membenarkan kejadian tersebut. Volume bangunan tanggul yang jebol tersebut 5 meter kali 2 meter, Pihak perusahaan kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan tanggul tersebut, enggan menutup titik lokasi bangunan tanggul yang jebol tersebut. Alasannya repot karena sulitnya menggerakkan alat berat butuh anggaran biaya yang besar.
“Akhirnya masyarakat yang turun tangan dengan gotong royong. Kalau tidak ditutup tanggul yang jebol tersebut, bukan hanya 10 hektar sawah di Sejunjung saja yang terendam air masin. Tumpahan air masin akan turut membanjiri 50 hektar sawah di Dusun Parit Jang desa Kedaburapat,” tegas Pjs Desa Bina Sempian tersebut.
Sementara itu sampai hari ini perusahaan kontraktor yang mengerjakan Proyek pembangunan tanggul tersebut belum dapat dikonfirmasi. “Soal apa nama perusahaan kontraktornya, kita tidak tahu, karena tidak melapor ke desa. Entah kalau melapor ke desa induk, desa Kedaburapat. Kita juga udah tanyakan sama operator dan pengawas lapangan, juga tidak ada kejelasan,” tegas Pranoto.





