KAB SOLOK, Jurnalterkini.id— Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno turun langsung meninjau lokasi bencana banjir bandang atau galodo di Kabupaten Solok, Kamis (24/9/2026).
Bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Kepala BNPB Suharyanto, dan Bupati Solok Jon Firman Pandu, ia memimpin rapat koordinasi di posko utama guna memastikan penanganan berjalan cepat, terpadu, dan mencakup pencegahan bencana susulan.
Pratikno menegaskan dua hal berjalan bersamaan yaitu pencarian korban yang masih hilang serta pemenuhan kebutuhan dasar warga. Di saat yang sama, pembersihan dan penyusuran sungai harus dilakukan untuk mengurangi risiko jika hujan lebat kembali turun.
“Penanganan tidak berhenti di masa tanggap darurat. Kita butuh perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang menyeluruh, agar risiko bencana serupa dapat diminimalisir,” ujarnya.
Gubernur Mahyeldi menyampaikan, berdasarkan prakiraan BMKG curah hujan masih tinggi. Karena itu, normalisasi sungai dan saluran air dijadikan prioritas utama selain pencarian korban.
Ia juga meminta seluruh kabupaten/kota di Sumbar segera menyusuri sungai di wilayahnya, memastikan tidak ada hambatan atau material longsor yang dapat mengalihkan aliran air.
“Susur sungai harus rutin dilakukan. Cek apakah ada pohon tumbang, tumpukan material, atau penyempitan aliran. Itu penting agar bencana tidak terulang,” tegas Mahyeldi.
Jangka panjang, kajian kebencanaan menyeluruh direncanakan dengan melibatkan Pusat Studi Kebencanaan Universitas Andalas, didukung BNPB dan pemerintah pusat.
Kepala BNPB Suharyanto menegaskan pencarian korban hilang dilanjutkan dengan seluruh daya yang ada.
Dikatakannya, Warga pengungsi diharapkan tidak terlalu lama di tenda pemerintah daerah diminta segera memetakan kondisi masing-masing keluarga, menentukan tempat tinggal sementara bersama kerabat atau hunian baru.
Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) akan menjadi dasar pemulihan menyeluruh.
Bupati Solok Jon Firman Pandu melaporkan dari dua orang yang sempat hilang, satu ditemukan meninggal dunia, satu masih dicari. Sebanyak 44 rumah terdampak, 11 rusak berat, 32 rusak ringan. Lahan pertanian, infrastruktur, dan gedung perkantoran juga terkena dampak sehingga pelayanan publik terganggu.
Kebutuhan anggaran rehabilitasi diperkirakan mencapai Rp819 miliar, mencakup sabo dam Rp250 miliar, normalisasi sungai Rp300 miliar, serta perbaikan rumah, lahan, gedung, dan sarana umum.
Pemkab Solok membutuhkan dukungan alat seperti mini ekskavator, pemecah batu, dan tenda besar untuk pelayanan publik sementara.
Kebutuhan logistik warga pengungsi terus dipenuhi, termasuk bagi kelompok rentan anak-anak, bayi, dan balita. Sebagian warga ditampung sementara di rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati.





