Distanhut Karimun Gelar Apresiasi Ketahanan Pangan

Karimun (Jurnal) – Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Rabu di Tanjung Balai Karimun menggelar acara apresiasi ketahanan pangan bersama para petani.

Acara apresiasi ketahanan pangan tersebut diikuti para petani dalam rangka meningkatkan produksi pangan non-beras untuk dijadikan bahan pangan khas daerah.

Kepala Distanhut Karimun Amran Syahidid mengatakan, pihaknya terus-menerus berupaya meningkatkan ketahanan pangan sehingga kebutuhan pangan Karimun tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Lahan kita cukup luas untuk diberdayakan untuk mewujudkan ketahanan pangan,” kata Amran Syahidid.

Ia mengatakan banyak tanaman tradisional bisa dikembangkan, contohnya sagu, singkong atau ubi jalar. Semua jenis tersebut bisa menjadi persediaan bahan pangan terutama beras semakin tidak mencukupi.

Menurut dia, Distanhut akan menggalakkan program Sehari Tanpa Beras (day no rice) dengan tujuan agar dapat secara perlahan-lahan mulai melakukan ketahanan pangan non-beras.

Ia juga menjelaskan, meski Karimun bukan sebagai daerah penghasil beras, tapi tidak ada terdengar masyarakat yang memakan nasi aking. Sedangkan daerah penghasil beras di Pulau Jawa banyak yang kesusahan dan terpaksa makan kerak nasi yang dimaksak lagi menjadi nasi aking.

“Jika seluruh dunia tanam padi, itu pun tidak mencukupi kebutuhan orang Asia saja, makanya Indonesia dan khususnya kita di Kabupaten Karimun mulai menggalakkan ketahanan pangan non beras. Yang mana dalam acara hari ini pun mulai kita perkenalkan kepada masyarakat yang hadir bahwa ada makanan yang merupakan produk olahan hasil tanaman non beras seperti keripik nangka, ubi jalar dan sebagainya,” kata Buya.

Melalui pertanian katanya lagi, Karimun telah mendapatkan beberapa penghargaan terbaik tingkat nasional, seperti petani terbaik, PPL terbaik dan ada dua lagi yang menerima penghargaan langsung dari Presiden SBY pada Agustus 2014.

Ia menjelaskan bahwa seorang asal Kecamatan Buru yang sudah mampu berpenghasilan Rp1 milyar sampai saat ini dalam setahun. Dengan menanam berbagai macam jenis dan memanfaatkan lahan yang cukup luas.

“Awalnya kita bantu Rp100 juta dan akhirnya bisa mandiri,” katanya. (rdi)

Total Views: 206

Pos terkait