Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan, selisih tipis ini tidak bisa menentukan siapa yang unggul.
“Perbedaan elektabilitas Andika-Hendi dan Luthfi-Taj Yasin 3.4 persen. Angka selisih ini tidak signifikan secara statistik karena kurang dari 2 kali margin of error. Margin of error survei ini 2,9 persen. Membutuhkan selisih lebih dari 5.8% untuk menyatakan perbedaan dukungan kedua pasangan signifikan. Karena itu, dukungan kepada kedua pasangan dapat dikatakan seimbang untuk sementara ini,” jelas Deni.

Sampel populasi di survei SMRC ini lebih kecil, sekitar 1.210 responden.Kedua lembaga survei menggunakan metodologi yang sama, yakni multistage random sampling, di 35 kabupaten atau kota di Jawa tengah.
Deni dari SMRC menyebutkan hingga saat ini masih ada 30-40 persen pemilih yang belum memantapkan pilihan mereka di Pilgub Jawa Tengah. “Kisaran 29- 35 persen kekosongan pilihan masing-masing pasangan calon. Ruang untuk perubahan elektabiliitas masih terbuka lebar. Kerja sosialisasi pada pemilih masih menentukan”, jelas Deni.Sementara itu, Burhanuddin dari Indikator Politik, berdasarkan hasil survei lembaganya, jumlah pemilih ragu tergolong cukup signifikan.
“Apapun bisa terjadi di tanggal 27 November nanti. 9,35 persen belum menentukan pilihan dan potensi berubah pilihan sekitar 29,5 persen. Ini sangat besar dan mengubah peta Pilkada Jawa Tengah”, pungkas Burhanuddin.
Sebelumnya, Parameter Politik Indonesia (PPI) juga melakukan survei terkait Pilgub Jateng. Hasilnya menunjukkan, tidak ada paslon yang bisa meraih suara di atas 50%.
Kepada media, Direktur PPI Adi Prayitno menilai, peluang para paslon relatif seimbang mengingat mereka rata-rata adalah tokoh baru.
“Jateng ini kan kandang banteng, tapi popularitas dan elektabilitas tiga kader PDI-P di survei kita itu rendah. Saya kira pertarungan di Jateng relatif datar ya dibanding wilayah lain seperti di Jabar, Jatim dan DKI Jakarta,” ujar Adi, saat merilis hasil surveinya, sebagaimana dikutip banyak media. [voa]
Jaringan: VOA






