Khusus untuk tahun ini, pemerintah akan mendatangkan 1.600 dosis vaksin cacar monyet yang didatangkan dari Denmark. Tidak seperti vaksin COVID-19, vaksin cacar monyet memang tidak diperuntukkan bagi masyarakat umum, namun bagi kelompok yang berisiko tinggi dan membutuhkannya seperti petugas laboratorium, petugas kesehatan dan lain-lain.
“Memang vaksin ini bukan untuk masyarakat umum, karena penularannya bukan seperti ini (lewat udara) penularannya benar-benar harus ada kontak seksual 95 persen, sama seperti HIV/AIDS. Dan saya rasa tidak akan sebanyak COVID-19 karena penularannya harus ada kontak fisik. Semua yang kita temukan, di Indonesia itu disebabkan adanya kontak fisik,” tuturnya.
Pemerintah pun, katanya belum berencana melakukan pembatasan pengunjung dari negara tertentu meskipun varian 1B sudah menyebar ke Swedia dan Thailand.
“Tidak ada (pembatasan), karena memang WHO juga tidak menganjurkan adanya diskriminasi dari orang-orang yang datang, dan benar pengalaman kita kalau ditutup masuknya bisa dari titik lain juga. Lebih baik adalah surveilansnya ditingkatkan saja,” tambahnya.
Sementara itu, Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengungkapkan berkembangnya penyakit cacar monyet dari endemik di Afrika menjadi epidemi disebabkan adanya pengabaian terutama dari negara maju yang seakan tidak terlalu peduli dengan penyakit tersebut. Menurutnya, hal ini harus dijadikan pelajaran oleh semua pihak.
Meski begitu, Dicky meyakini sampai saat ini potensi cacar monyet untuk bisa menjadi pandemi sangat kecil kemungkinannya.
“Tentu, kalau bicara potensi pandemi kecil karena apa? Karena ini bukan penyakit baru, vaksin pun yang efektif ada dan penularannya tidak mudah, harus ada kontak erat langsung. Berbeda dengan COVID-19 yang umumnya kalau bicara pandemi sebetulnya dalam sejarahnya kalau pandemi selain penyakitnya baru, ditularkan juga cenderung utamanya melalui udara. Selain itu ada juga yang lewat air, seperti kolera yang menjadi wabah besar,” ungkap Dicky.
Mengingat pergerakan masyarakat secara global sudah sangat masif, masuknya varian cacar monyet 1B ini tinggal menunggu waktu saja. Maka dari itu, pemerintah menurut Dicky harus melakukan berbagai langkah penting untuk mengantisipasi ini seperti menyiapkan alat deteksi, diagnosis serta penangannya dengan baik dan meresponnya dengan cepat agar tidak mudah menyebar di tanah air dan menjadi ancaman bagi kelompok yang paling rawan seperti anak dan ibu hamil.
“Meningkatkan deteksinya, meningkatkan penguatan di pintu masuk, tidak harus ditutup, tetapi juga skriningnya terutama untuk orang-orang yang datang dari negara terdampak dan tentu ini juga harus ditingkatkan dengan penguatan sistem deteksi di dalam negeri terutama pada kelompok yang masuk ke dalam kategori berisiko tinggi seperti laki-laki suka laki-laki, dan penjual dan pembeli seks termasuk ya. Supaya ini bisa menjangkau mereka sehingga tidak makin meluas dan penerapan strategi vaksinasi cincin ini juga penting,” tutupnya. [voa]
Jaringan: VOA






