Demonstrasi Merebak di Jakarta dan Kota Lain di Dunia, Tuntut Diakhirinya Genosida di Gaza

Warga memegang plakat dalam unjuk rasa pro-Palestina di Jakarta, 9 Juni 2024, di tengah konflik yang berlangsung antara Israel dan Hamas. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Warga memegang plakat dalam unjuk rasa pro-Palestina di Jakarta, 9 Juni 2024, di tengah konflik yang berlangsung antara Israel dan Hamas. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Paris, Baghdad dan Sanaa Juga Dilanda Demonstrasi

Demonstrasi serupa juga terjadi Paris, Prancis; Baghdad, Irak; dan Sanaa, Yaman.

Bacaan Lainnya

Abdelali Mebarki, salah seorang demonstran di Paris, menuntut Komite Olimpiade Internasional IOC untuk melarang atlet-atlet Israel ikut bertarung, sebagaimana larangan yang dikeluarkan IOC terhadap atlet-atlet Rusia setelah negara beruang merah itu menyerang Ukraina.

“Menurut saya Israel tidak boleh terlibat dalam Olimpiade karena IOC sebelumnya juga sudah melarang Rusia ikut. Mengapa Israel boleh? Israel telah melakukan genosida terbesar di dunia. Ini jelas standar ganda. Ini tidak bisa kami terima. Mengapa semua orang menutup mata. Bahkan Prancis pun tidak mengatakan apapun. Jadi kami turun ke jalan untuk menunjukkan hal itu,” katanya.

Sementara warga Sanaa, Mohammad Al Qaeli, mengatakan ia ikut berdemonstrasi karena ingin memprotes perang Israel-Hamas yang sudah berlangsung selama 10 bulan, dan mendesak untuk menjadikan tanggal 3 Agustus sebagai hari khusus untuk mendukung Gaza.

PM Israel Bergeming

Meskipun demikian Israel tampak bergeming.

Berbicara dalam rapat kabinet pada Minggu (4/8/2024), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan “perang melawan terorisme akan berlanjut sepanjang waktu.” Ia bahkan memperingatkan Iran bahwa Israel “bersiap menghadapi skenario apapun, dalam hal pertahanan dan serangan.”

Pengamat: Kematian Haniyeh Berdampak Luas

Pengamat Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro Mohamad Rosyidin mengatakan kematian Haniyeh di Teheran, sehari setelah ia menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran Masoud Pezeshkian, akan berdampak negatif terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah karena secara terang-terangan menyeret Iran berkonfrontasi langsung dengan Israel.

“Ini justru akan menutup pintu bagi perdamaian, memperburuk keadaan di kawasan. Terlebih pihak-pihak lain terlibat sehingga konflik ini tidak hanya bereskalasi tapi multifront karena pertempuran tidak hanya di Gaza,” ujarnya.

Ketegangan semakin memuncak seiring terus berkecamuknya perang Israel-Hamas selama hampir 10 bulan di Gaza, dan pembunuhan dua tokoh senior kelompok militan Hamas dalam dua serangan terpisah di Lebanon dan Iran minggu lalu. Pembunuhan itu memicu ancaman pembalasan dari Iran dan sekutu-sekutunya, dan meningkatkan kekhawatiran meluasnya perang yang bahkan lebih menghancurkan di kawasan itu. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 442

Pos terkait