Tembilahan, JurnalTerkini.id – Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan panjang badan atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%, sementara target yang ingin dicapai adalah 14% pada 2024.
Berbagai cara sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dalam upaya penurunan angka stunting di Inhil.
Terlihat dari grafik hasil pengukuran stunting di Kabupaten Inhil tahun 2023 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2021. Dimana pada tahun 2021 persentase balita stunting di Inhil 3,15% dan di 2023 : 2,38%, meski sebelumnya di tahun 2022 lebih rendah 1,79%.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir, Rahmi Indrasuri, S.K.M., M.K.L menyebutkan, ada 3 faktor determinan yang memerlukan perhatian dalam menurunkan angka stunting, diantara adalah faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Yang pertama itu ada faktor lingkungan, dibeberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih, belum memiliki jamban sehat. Selanjutnya yang kedua, pelayanan kesehatan bumil (ibu hamil) teratur pemeriksaan kehamilan cukupi konsumsi protein hewani datang ke Posyandu setiap bulan ASI eksklusif 6 bulan aktif minum tablet tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil serta dianjurkan juga untuk calon pengantin kesehatan reproduksi,” jelasnya, Jumat (7/6/2024).
“Sementara yang terakhir adalah PHBS, persalinan masih ada tidak di fasilitas kesehatan dan ditolong dukun, tidak melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan tidak memberikan ASI eksklusif, balita rutin ditimbang merupakan indikator PHBS di rumah tangga dan tidak merokok merupakan salah satu indikator PHBS di rumah tangga,”pungkasnya. (ADV)






