Politik Identitas
Sebagai mantan menteri pendidikan, rektor universitas, dan penerima beasiswa Fulbright dengan gelar PhD bidang kebijakan publik dari Northern Illinois University, Anies sangat dikagumi karena latar belakang keilmuan dan pidatonya.
Meski menganut Islam moderat, Anies dikritik karena kedekatannya dengan kelompok Islam garis keras, sehingga meningkatkan momok politik identitas di Indonesia.
Anies membela rekam jejaknya sebagai orang yang inklusif, dengan mengatakan bahwa ia membantu meringankan persyaratan izin untuk membangun tempat ibadah agama apapun saat memimpin Jakarta, kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa.
“Kalau masyarakat mau menerima keterbukaan dan menilai (saya) berdasarkan fakta, saya senang. Kalau tidak, saya tidak bisa memaksa,” ujarnya.
Pasangan Anies adalah Muhaimin Iskandar, pemimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang terkait erat dengan Nahdlatul Ulama.
Made Supriatma, peneliti tamu di ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan dukungan dari kedua partai politik Islam konservatif dan progresif tersebut turut membantu rating Anies dalam jajak pendapat. Nnamun jika kelompok minoritas tetap tidak yakin, hal itu mungkin akan mempengaruhi peluangnya menjadi presiden.






