Kedatangan pengungsi Rohingya cenderung meningkat antara bulan November dan April, ketika laut lebih tenang. Banyak dari mereka naik kapal dan berlayar menuju negara tetangga Thailand, serta Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim.
“Terlalu banyak orang Rohingya di Aceh,” kata Desi Silvana, 30, salah seorang warga yang tinggal di daerah tersebut. “Tahun ini sudah ratusan, bahkan ribuan yang datang.”
Sekitar 135 pendatang Rohingya akhir pekan lalu telah dipindahkan ke kantor gubernur provinsi tersebut setelah komunitas di Kabupaten Aceh Besar menolak mereka, kata media. Tidak jelas apa yang memicu reaksi buruk tersebut, yang juga muncul di media sosial.
“Saya tidak mau membayar pajak jika digunakan untuk Rohingya,” kata salah satu pengguna platform sosial X, trianiwiji9. Yang lain menggambarkan Rohingya sebagai “parasit.”
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Presiden Indonesia Joko Widodo menyalahkan lonjakan kedatangan baru-baru ini sebagai akibat dari perdagangan orang, dan berjanji untuk bekerja sama dengan organisasi internasional untuk menawarkan tempat penampungan sementara.
Selama bertahun-tahun, banyak warga Rohingya meninggalkan Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Di Myanmar. mereka umumnya dianggap sebagai pendatang asing dari Asia Selatan, ditolak status kewarganegaraannya, dan menjadi sasaran pelecehan. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






